Foto: AFP.
TEHRAN - Iran mendeklarasikan diri sebagai negara nuklir pada peringatan 31 tahun Revolusi Islam. Deklarasi itu ditandai dengan aksi unjuk rasa besar-besaran. Nuklir Iran sebelumnya menjadi polemik bagi Amerika.
Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran saat ini adalah negara nuklir. Ahmadinejad berpidato dihadapan ratusan ribu orang yang ada di Alun-Alun Azadi (Kebebasan).
"Suatu hari nanti mereka akan berujar bahwa kita tidak akan bisa lagi memperkaya uranium, tapi dengan perlawanan pemimpin kita, negara ... dan dengan bantuan Tuhan, Negara Iran telah menjadi negara nuklir," ujarnya berapi-api, seperti dikutip AFP, Jumat (12/2/2010).
Bahkan, Ahmadinejad menantang negara barat dan meminta PBB untuk memberikan sanksi baru.
Uni Eropa pun akan mengumumkan sanksi dalam waktu dekat, walaupun Dewan Keamanan PBB menyetujui penggunaan nuklir hanya sebagai pembangkit energi, bukan sebagai senjata.
Presiden dari garis keras itu menyatakan bahwa produksi uranium akan ditingkatkan dan secara terang-terangan menentang negara Barat atas sanksi-sanksi baru yang akan dijatuhkan.
"Mereka (orang-orang Amerika) ingin mendominasi wilayah kita. Tapi rakyat Iran tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ujar Ahmadinejad.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengucapkan terima kasihnya kepada rakyat yang telah ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Tapi perayaan tahun ini terganggu dengan adanya demonstrasi antipemerintah walaupun operasi keamanan sudah sangat ketat.
Seorang saksi mengatkan bahwa “polisi menembakkan gas air mata dan menembakkan beberapa kali meriam udara ke arah demonstran." Para demonstran juga dipukuli dengan tongkat dan batang besi oleh orang-orang berseragam preman.
Peringatan ini sudah dipersiapkan sebelumnya. Pemerintah Iran dan kelompok oposisi mengimbau penduduk mereka untuk hadir dalam peringatan 31 tahun Revolusi Islam di Iran. Pemerintah Iran sendiri mengaku akan menindak tegas jika perayaan itu berjalan anarkis.
Sebelumnya, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (DK PBB) dan Jerman yang tergabung dalam 5P+1 menolak nuklir Iran. Negara 5P+1 terdiri dari lima anggota Dewan Keamanan PBB (Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Rusia, dan China) serta Jerman. Negara-negara inilah yang selama ini dilibatkan dalam perundingan tingkat dunia terkait penyelesaian kasus nuklir Iran.
Departemen Luar Negeri AS kemudian mengatakan bahwa berdasarkan pemantauan menunjukkan bahwa Iran mencoba "blokade informasi secara total" untuk menghadapi para demonstran, yang dicap sebagai gelombang luar biasa, yang belum pernah terjadi sebelumnya.
(rhs)