Warga berusaha menyelamatkan korban. (Foto : AFP)
MENKES - Tim penyelamat menghentikan proses evakuasi runtuhnya minaret (menara) Masjid Lalla Khenata di Bab el Bardiyine, di Kota Meknes, Maroko. Diberhentikannya evakuasi itu membuat warga geram.
’’Aparat berwenang telah menghentikan proses evakuasi dan telah membersihkan reruntuhan puing minaret. Mayat terakir dievakuasi pada Sabtu (kemarin) pagi,” ujar anggota parlemen Abdallah Bouanou.
Bouanou menyesalkan lambannya proses evakuasi itu. Menurutnya, tim penolong seharusnya bekerja lebih serius. ’’Ada suara pemuda minta tolong tadi malam (Jumat, 19/2). Tapi, dia baru dievakuasi tadi pagi dalam kondisi sudah tak bernyawa,’’ paparnya.
Warga setempat juga mengaku geram atas lambannya evakuasi itu. Apalagi musibah itu sebenarnya bisa dicegah asalkan pemerintah setempat mendengarkan peringatan mereka.
’’Sudah berulang kali kami beritahu ke mereka bahwa ada retakan di dinding masjid dan minaret itu juga mulai roboh. Tapi mereka tidak mengindahkannya,” ujar seorang warga yang mengaku bernama Mohamed kepada Reuters.
Pertahanan sipil beralasan, lambannya evakuasi disebabkan karena jalan menuju masjid itu terlalu sempit sehingga alat berat tak bisa dikerahkan. Selama ini, kawasan Afrika dikenal akan kekayaan peninggalan bersejarah. Masjid Lalla Khenata adalah salah satunya. Masjid bersejarah ini dibangun pada abad ke-18 atas inisiatif menteri perempuan pertama Maroko, Khnata bent Bakkar.
Raja Mohammed VI sebenarnya sudah mendesak supaya konstruksi masjid diperbaiki, tetapi minaret tetap dipertahankan sesuai bentuk semula.Namun rekonstruksi belum juga dilaksanakan. Robohnya minaret Masjid Lalla Khenata pada Jumat lalu tercatat sebagai tragedi terburuk yang pernah melanda Afrika. (AFP/Rtr/anastasia ika)(Koran SI/Koran SI/rhs)