Agen Mossad yang terlibat pembunuhan
YERUSALEM - Kasus pembunuhan komandan tinggi Hamas, Mahmoud Al-Mabhouh di sebuah hotel di Dubai, 19 Januari lalu terus bergulir. Polisi Dubai telah menyerukan penangkapan kepala agen rahasia Israel, Mossad, atas dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan itu.
Kamis (18/2), Kepala Polisi Dubai Dahi Khalfan Tamim meminta Interpol agar mengeluarkan catatan merah terhadap kepala Mossad dan Mossad terbukti berada di balik pembunuhan itu. Menurut Tamim, Mossad, yang dipimpin mantan jenderal Israel Meir Dagan, bertanggung jawab atas pembunuhan itu.
"Penyidikan kami mengungkapkan bahwa Mossad terlibat dalam pembunuhan Al-Mabhouh. Kami yakin 99% bahwa Mossad berada di balik pembunuhan ini," tandas Tamim.
Namun, Israel kemarin menganggapi enteng permintaan untuk menangkap Dagan. "Polisi Dubai tidak memberikan bukti yang cukup," ujar seorang pejabat senior Israel. "Ancaman terhadap Meir Dagan itu tak jelas. Tuduhan itu tak berdasar. Polisi tidak menjelaskan bagaimana dia (Al-Mabhouh) tewas atau bukti bahwa dia dibunuh."
Sementara, Interpol, telah mengeluarkan red notice terhadap 11 tersangka yang diduga melakukan pembunuhan itu. Ke-11 tersangka itu merupakan warga negara Eropa, dari Inggris, Prancis, Jerman dan Irlandia.
Red notice dikeluarkan setelah pemerintah sebuah negara mengeluarkan surat penangkapan untuk membantu menemukan tersangka sehingga mereka bisa ditangkap atau diekstradisi. Organisasi ini sudah memublikasikan nama dan foto yang tertera pada paspor untuk membatasi ruang gerak para tersangka.
Namun, mereka meminta polisi memfokuskan pada foto untuk memutuskan siapa yang akan diperiksa dan ditahan. "Karena nama pada paspor yang ditemukan Polisi Dubai kemungkinan adalah nama orang yang tidak bersalah yang identitasnya dicuri, Interpol yakin bahwa kami belum tahu identitas sejati dari orang-orang yang dicari," ujar Sekretaris Jenderal Interpol Ronald Noble.
Pembunuhan itu membuat kaget beberapa pemerintahan asing karena ke-11 tersangka yang fotonya dirilis Dubai itu diduga menggunakan paspor palsu Eropa untuk masuk ke Uni Emirat Arab. Pemerintah Inggris, Irlandia, Prancis dan Jerman telah memanggil utusan Israel untuk membicarakan masalah itu.
"Israel diminta untuk membantu menginvestigasi penggunaan paspor palsu itu," ungkap seorang pejabat Israel kepada AFP. Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman dipastikan menghadapi pertanyaan keras pada Senin (22/2) mendatang saat bertemu para menteri luar negeri Eropa di Brussels, Belgia.
Israel menerapkan kebijakan ambiguitas atas operasi Mossad. Mereka menolak membenarkan atau membantah bahwa agennya telah membunuh Al-Mabhouh. Di Gaza, sumber Hamas menuduh anggota gerakan rival mereka, Fatah, membantu pembunuhan itu.
Dua warga Palestina diperiksa terkait pembunuhan itu. Sementara, kemarin, Inggris membantah laporan Daily Mail yang menyebutkan bahwa pemerintah telah diberi tahu tentang paspor palsu yang digunakan dalam pembunuhan Al-Mabhouh.
Menurut The Mail, Israel-lah yang memberi tahu pemerintah dan Agen Intelijen Rahasia Inggris, MI6, atas hal itu. Menurut Juru Bicara Kantor Luar Negeri Inggris, tidak benar untuk menuding Inggris tahu tentang keberadaan paspor itu.
"Kami menerima laporan tentang paspor Inggris itu beberapa jam sebelum polisi Dubai menggelar jumpa pers," ujarnya. Jika memang terbukti bahwa Israel telah menggunakan paspor Inggris untuk melakukan operasio Mossad - sebagaimana dilakukan agen rahasia Israel itu terhadap Kanada dan Selandia Baru - maka hubungan Inggris dan Israel akan berada dalam krisis.
Sementara New York Times melaporkan, saat ini polisi Dubai sedang memeriksa sejumlah kartu kredit keluaran Amerika Serikat (AS) yang digunakan untuk membeli tiket pesawat, yang disebut didapat dengan menggunakan paspor palsu itu. (Koran SI/Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//rhs)