Getting Time...

Krisis Pangan di Zona Perang

Selasa, 23 Februari 2010 08:55 wib
Perang menyulitkan pasokan pangan bagi warga Afghanistan (Foto: AFP)
Perang menyulitkan pasokan pangan bagi warga Afghanistan (Foto: AFP)
KABUL - Warga yang hidup di garis depan operasi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) melawan Taliban di Afghanistan selatan, terperangkap di rumah-rumah mereka dan kekurangan makanan.

Ratusan orang yang bisa keluar dari zona pertempuran pun tidak mendapatkan bantuan untuk menghadapi musim dingin yang mematikan.

"Kami sangat khawatir dengan keamanan warga sipil, khususnya di daerah Marjah. Warga yang sakit tidak dapat pergi ke rumah sakit, dan tak seorang pun dapat membawakan obat-obatan pada mereka," tutur Ajmal Samadi, kepala organisasi independen Pengawas Hak Asasi Afghan (ARM).

Samadi menuturkan, warga tidak dapat memperoleh makanan atau pergi keluar rumah menuju lahan pertanian. "Harga makanan naik karena pertempuran. Orang-orang yang memerlukan bantuan medis, tidak dapat memperolehnya," katanya.

Warga yang mengalami luka-luka akibat perang dan perempuan yang hendak melahirkan, terpaksa tetap berada di rumah masing-masing. Keluar rumah, bisa berarti kematian.

Serangan besar-besaran oleh pasukan aliansi NATO pimpinan AS ke Marjah dan Nad Ali, Provinsi Helmand, Afghanistan selatan, yang dilancarkan sejak 13 Februari, disambut Taliban dengan menempatkan banyak penembak jitu dan bom rakitan atau ranjau darat.

Militer NATO dan tentara Afghanistan berharap Operasi Mushtarak (Bersama) itu dapat melumpuhkan Taliban yang berlindung di tengah lembah Sungai Helmand. Daerah tersebut merupakan pusat perdagangan opium selama dua tahun terakhir. Diduga, hasil perdagangan opium menjadi salah satu sumber pendanaan Taliban.

Pemerintah Afghanistan berdalih, operasi militer itu digelar untuk mengembalikan kedaulatan Negara. Setelah tercipta keamanan, pemerintah berjanji membangun klinik, sekolah, dan lapangan kerja.

Mushtarak juga menjadi ujian pertama strategi Presiden AS Barack Obama untuk melawan Taliban. Tujuan operasi itu jelas, mendapatkan kepercayaan rakyat Afghanistan dan menetralisir Taliban.

Tapi, presiden Dewan Internasional untuk Keamanan dan Pembangunan Norine MacDonald menilai operasi militer itu tidak berdampak apa pun bagi warga sipil Afghanistan.

"Rencana operasi itu dipaparkan sedemikian baik, tapi tidak ada jaminan bahwa warga lokal dapat hidup aman di kondisi perang seperti itu, untuk mendapatkan makanan dan layanan medis yang layak," paparnya.

Lebih dari 2.800 keluarga telah mengungsi sebelum dan selama pertempuran. Jika setiap keluarga sedikitnya ada lima orang, maka 14.000 orang mengungsi.

"Kondisi warga yang mengungsi sangat memprihatinkan dan tidak ada bantuan yang mencapai lokasi mereka," tutur Abdul Rahman Hutaki, kepala Organisasi Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Afghanistan.

Pemerintah provinsi Helmand menyatakan, 2.000 keluarga yang mengungsi, berada di Lashkar Gah dan mendapatkan bantuan dari organisasi internasional dan Afghanistan. Tapi pernyataan pemerintah itu berbeda dengan pengakuan warga.

Salah satu penduduk Marjah Ahmad Jan menyatakan, "Sejak saya mengungsi ke Lashkar Gah, saya tidak menerima bantuan apa pun." Direktur masalah pengungsi Helmand Ghulam Farooq Noorzai menjelaskan, makanan dan pakaian musim dingin telah didistribusikan pada 1.400 keluarga.

Sayangnya, kebenaran klaim pemerintah itu tetap berbeda dengan kenyataan di lokasi pengungsian. Zona pertempuran seluas 200 kilometer persegi telah dipenuhi dengan bom rakitan (IED) yang ditanam Taliban.

"Bom-bom rakitan dipasang di jalanan, tanah lapang, pepohonan, atau pun di dalam dinding rumah," papar militer.

"Adanya bom-bom itu membuat kami tidak mungkin bergerak masuk atau keluar kota. Sebagian besar warga juga tidak mendapatkan makanan atau pengobatan. Orang-orang tidak dapat bekerja di ladang pertaniannya," kata penduduk Marjah Abdul Ghias, 53.

Para komandan NATO mengakui, membutuhkan tiga pekan lagi, sebelum wilayah itu dapat dikuasai sepenuhnya dari Taliban. "Saat ini 15.000 pasukan yang terdiri atas Marinir AS, NATO, dan tentara Afghanistan mengalami kesulitan," papar mereka.

Kemarin, polisi Afghanistan bersiap mengontrol pusat kota Marjah. Komandan Tentara Angkatan Darat Nasional Afghanistan untuk Provinsi Helmand Jenderal Muhaidin Ghori menjelaskan, sekitar 600 polisi dari Pasukan Polisi Perlindungan Publik, terus memperluas kontrol sejak Jumat (19/2).

"Mereka di pusat Marjah, di pasar. Kami sibuk membersihkan dan melakukan operasi pencarian untuk membuat pos-pos permanen bagi polisi untuk mulai menjalankan tugasnya," papar Ghori.

Kemarin, NATO menjelaskan, Taliban masih melakukan "perlawanan akhir" di beberapa wilayah, dengan bom dan serangan sporadis. "Fase pembersihan berjalan baik dan akan memerlukan sedikitnya 30 hari lagi untuk menyelesaikannya," papar NATO.

Hingga kemarin, 12 tentara Pasukan Asisten Keamanan Internasional NATO (ISAF) tewas dalam pertempuran melawan Taliban. Operasi ini merupakan yang terbesar sejak invasi pimpinan AS pada 2001 untuk menggulingkan pemerintahan Taliban.

Pemerintah Afghanistan mengklaim, warga sipil yang tewas akibat operasi Mushtarak hanyalah 15 orang. Sedangkan kelompok HAM menyatakan, warga sipil yang tewas mencapai 21 orang. (Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//rhs)
TWITTER »
twit