Getting Time...

Renew Bantu PSK Temukan Masa Depan

Kamis, 25 Februari 2010 09:17 wib
Ilustrasi: The Straits Times
Ilustrasi: The Straits Times
ANGELES, FILIPINA - Namanya Joy. Namun, pandangan matanya tak seindah namanya yang berarti kebahagiaan. Usia gadis ini baru 20 tahun, dan dia terjebak di dunia gelap, prostitusi.

Sambil duduk-duduk di depan pusat untuk korban kekerasan wanita, Joy pun membuka cerita pedih kehidupan yang dia jalani. "Saya mulai bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Fields Avenue sejak usia 15 tahun," tuturnya membuka cerita dengan CNN.

"Saya butuh uang untuk biaya kehidupan bayi saya, dan saya sangat miskin," imbuhnya. Joy menceritakan sang "mamasan" (mucikari) memintanya untuk bekerja di Malaysia karena penghasilannya relatif tinggi. Setelah sang mucikari mengatur kontrak, dia dikirim ke Sandakan, Malaysia timur.

Hanya, janji mudah mendapatkan uang dan kehidupan yang layak ternyata menguap. "Pertama, saya diminta untuk mengkonsumsi obat. Kemudian, saya harus melayani sebanyak 20 pria per hari. Jika saya menolak, mereka mengancam memasukkan saya ke penjara tanpa makanan," papar Joy.

Dia pun dilarang kembali ke Filipina. Dia dapat pulang ke negaranya setelah sang nenek membuat permohonan kepada pemerintah Filipina. Enam minggu kemudian, Joy pun kembali ke Angeles tanpa membawa uang sepeser pun.

Ingin melepaskan dari industri seks, Joy pun menghubungi organisasi nirlaba, yayasan Renew yang didirikan di Angeles pada 2005. Renew membantu pemerintah Filipina dalam pemberantasan perdagangan manusia dan memperdayakan korban prostitusi.

Dengan bantuan dana pribadi, serta hibah dari UNAIDS and kantor PBB urusan obat dan kejahatan, Renew menawarkan berbagai program seperti perumahan, makanan, dan pendidikan keahlian. Semuanya ditujukan untuak mengembalikan korban prostitusi kembali ke komunitas mereka.

Fokus Renew adalah membantu anak-anak korban perdagangan seks. Juru Bicara kantor PBB Organisasi Pekerja Internasional (ILO) di Manila, Minette Rimando, memperkirakan sekitar 60.000 hingga 100.000 anak-anak Filipina terjebak dalam lingkaran prostitusi. "Kebanyakan PSK adalah anak-anak yang direkrut dari wilayah pedesaa untuk bekerja di kota atau di luar negeri," ungkapnya.

"Mereka menderita kekerasa fisik dan psikis," tambahnya. Kota seperti Angeles dapat merepresentasikan "bencana" bagi para gadis dan perempuan Filipina. Hanya dua jam dari arah utara Manila, Angeles dikenal dengan industri seksnya.

Ribuan turis seks dari berbagai penjuru dunia sering membanjiri kota tersebut. Para pria nakal pun dapat dengan mudah menemukan obat kuat, seperti viagra di pinggiran jalan. Kota itu pun terlihat "kotor" dan "tak memiliki jiwa".

Tidak ada pantai yang masih alamai, hutan tropis, kemacetan, dan kemiskinan menjadi endemi. Selain itu, seks dijual sangat murah, dan tersedia melimpah.

"Pasangan," tutur seorang pria Australia yang gemuk sambil minum bir San Miguel di sebuah bar di Angeles. "Angeles adalah surga dunia. Gadis-gadisnya masih muda, harga birnya murah, dan tidak pernah dingin. Adakah tempat di dunia seperti Angeles?' tanyanya.

Sepanjang jalanan utama Fields Avenue, bar-bar dipenuhi oleh pria pemabuk sambil dikeliling oleh gadis-gadis. Sebagian besar perempuannya menggunakan baju seksi dan bersepatu hak tinggi. Jumlah bar di jalanan tersebut pun tak terhitung dengan layanan seks dengan tarif USD26 (Rp241.800).

Nah, Renew memang fokus dengan para pekerja seks yang bekerja di bar dan rumah bordir di Angeles. Menurut Direktur Renew Paulo Fuller, mereka melakukan identifikasi para perempuan yang menjadi korban perdagangan manusia.

"Jika ada orang yang melarikan diri dari industri seks, maka kita akan bekerjasama dengan polisi dan pemerintah untuk membebaskan mereka," ujarnya. "Kita juga menyebarkan kartu nama dan nomer kontak yang dapat dihubungi kalau ada korban PSK yang ingin dibantu," kata Fuller.

Fuller mengklaim bahwa mereka sukses membantu para korban PSK keluar dari dunia gelap menunju kehidupan baru. "Lebih dari 80% perempuan yang mengikuti program kita berhasil," tuturnya. Dengan pendidikan keahlian, dan bantuan rumah, menurut Fuller, mereka tidak akan kembali ke industri seks. (Koran SI/Koran SI)(//rhs)
TWITTER »
twit