Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Yukiya Amano, saat memberikan pernyataan pada konferensi pers di Vienna pada 1 March 2010 (foto: AFP)
BEIJING - China mengusulkan adanya perundingan untuk mencari penyelesaian permasalahan nuklir Iran. Wacana tersebut menyeruak setelah Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengatakan, Moskow tengah memikirkan untuk memberikan sanksi baru bagi Teheran.
"Kami yakin masih ada ruang diplomasi dan bagi pihak yang memang peduli diminta untuk melakukan usaha itu," ujar Juru Bicara Menteri Luar Negeri Qin Gang, seperti dikutip AFP, Selasa (2/3/2010).
Kepala Atomik Iran Ali Akbar Salehi menuduh Badan Pengawas Atom PBB telah menyimpang dan ia berharap pemerintah Jepang akan melakukan pendekatan yang lain mengenai program atom Teheran.
"Kami berharap Diplomat Jepang Yukiya Amano sebagai pemimpin baru Badan Energi Atom Internasional (IAEA), melakukan pemeriksaan dan pendekatan tidak dengan cara yang salah dalam menyikapi masalah nuklir. Tapi tampaknya apa yang dia bicarakan kemarin kontradiksi sekali, kami tidak melihat adanya posisi yang menyimpang," ujar Salehi ketika dikonfirmasi mengenai pertemuan yang dilakukan oleh badan atom PBB.
Amano yang mengambil alih kepala IAEA pada 1 Desember lalu mengatakan, dalam pertemuan yang digelar di Wina kemarin menghasilkan bahwa Iran tidak memberikan informasi yang cukup mengenai aktifitas nuklirnya.
Dua minggu sebelum pertemuan digelar, Amano membuat laporan yang diedarkan kepada anggota IAEA. Dalam laporan itu ia menyampaikan kekhawatirannya bahwa Teheran sedang mengerjakan proyek hulu ledak nuklir. Pertemuan itu juga menyampaikan bahwa Iran memperkaya uraniumnya ke level yang lebih tinggi. Secara teori, hal itu menyerupai pembuatan bom atom.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamaenei merespons laporan tersebut dengan menuduh IAEA kurang independen dan terpengaruh dengan Amerika Serikat.(rhs)