Image : Corbis.com
MANILA - Jesse, bukan nama sebenarnya, pembunuh bayaran yang ikut ambil bagian dalam pembunuhan massal November silam di Filipina selatan,kemarin,mengaku nyawanya terancam.
Jesse mengaku takut dibunuh karena dituding sebagai biang pembunuhan berencana tersebut. Dia merupakan saksi kunci dalam insiden yang menghebohkan dunia internasional itu. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Jesse mengaku bertugas membunuh para saksi mata peristiwa keji itu.
Namun kini, dia justru khawatir bahwa dirinya bakal menjadi korban selanjutnya. “Dia (Andal Ampatuan Jr, dalang pembunuhan) menginstruksi saya agar membunuh satu orang yang menjadi seorang saksi mata,” paparnya. “Saya melaksanakan perintah itu. Jika saya tidak melaksanakan apa yang dikatakan, mereka akan membunuh saya,” ungkapnya.
Pada November lalu, pembunuhan massal berlangsung di Filipina selatan di provinsi Maguindanao. Wilayah tersebut merupakan insiden terburuk bermotif politik dengan korban tewas mencapai 57 orang. Pembunuhan tersebut didalangi Andal Ampatuan Jr atau yang dikenal Datu Unsay. Motifnya, dia ingin menghabisi keluarga lawan politiknya. Sedikitnya 31 jurnalis ikut menjadi korban.
Beberapa orang yang sedang lewat di jalan tempat kejadian perkara dan mengetahui insiden tersebut pun dibunuh.Para penyidik mengungkapkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan pembunuh bayaran untuk menutup jejak mereka. Kini, Ampatuan Jr ditahan di penjara Manila atas dakwaan berencana pembunuhan.
Meski persidangannya ditunda tanpa alasan yang jelas, keputusan penundaan tersebut sebelumnya diajukan pengacaranya. Berbicara kepada Al Jazeera, Jesse mengungkapkan dia ambil bagian dalam pembunuhan massal November tersebut karena dia merupakan karyawan sepupu Ampatuan Jr. Saat itu dia berada dalam dua pilihan yang sama-sama berisiko nyawa, membunuh atau dibunuh.
Dia menuturkan bahwa serangan tersebut bukan atas perintah Ampatuan Jr,tapi atas perintah ayah Ampatuan Jr, Ampatuan Sr. Keluarga mereka adalah klan pemimpin. Ampatuan Sr pernah menduduki jabatan sebagai gubernur provinsi. “Saya berada di sana ketika mereka bertemu untuk membahasa rencana pembunuhan,” ujar Jesse.
“Unsay (Andal Ampatuan Jr) hanya melakukan apa yang diperintahkan Andal Sr. Saya juga mengikuti perintah. Saya juga ikut menembak, saya tak mengetahui berapa banyak yang saya tebak. Jika saya tidak melakukannya, kita mengetahui seperti apa Unsay,” ujarnya. Kini, Jesse hanya bisa bersembunyi dan menggunakan nama palsu.
Dia masih menunggu keputusan dari otoritas Filipina atas kesaksiannya dalam perlindungan saksi. Untuk saat ini,Ampatuan Jr bakal memberikan dana segar senilai USD45.000 (Rp417 juta) bagi siapa saja yang mampu membunuh Jesse. Meski demikian, klan Ampatuan menolak tuduhan terlibat dalam pembunuhan tersebut.Ampatuan Sr telah menguasai provinsi Maguindanao selama satu dekade dan ingin menyerahkan kekuasaannya kepada putra.
Dia berharap juniornya itu bisa menjadi gubernur pada pemilu nasional yang bakal digelar pada Mei silam. Selama ini, keluarga besar Ampatuan dikenal sebagai sekutu politik Presiden Filipina Gloria Arroyo. Presiden yang akan maju pada pemilu parlemen itu telah mengizinkan klan Ampatuan untuk membangun para militan untuk mendukung suaranya.
Al Jazeera melaporkan bahwa penyidikan pembunuhan massal kali ini bukan hanya menjadi ujian bagi sistem keadilan di Filipina, tetapi kekuatan demokrasi secara keseluruhan. Pasalnya, ratusan anggota klan yang telah didakwa dalam kaitan dengan pembunuhan, hanya satu pria - Ampatuan Jr - yang sejauh ini masuk dalam proses pengadilan. Dengan persidangan Ampatuan Jr yang ditunda,sebagian besar warga Filipina skeptis bahwa dalang pembunuhan bakal dibawa ke pengadilan.
Otoritas pengadilan menolak tudingan adanya tekanan politik dan mereka menyatakan akan melakukan apapun yang terbaik. Di penjara atau tidak,menurut Jesse, klan Ampatuan memiliki jangkauan yang panjang. “Unsay (Ampatuan Jr) telah berkata kepada para pendukungnya agar lebih sabar.Dia bilang segera lepas dari penjara,” ujarnya. “Kalau memang dia berhasil, dia akan menghukum siapa pun yang berusaha melawannya,” paparnya. (Al Jazeera/andika hm)(Koran SI/Koran SI/rhs)