Menlu AS Hillary Clinton (Foto: New York Times)
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mengecam keras rencana proyek pemukiman baru Yahudi di Yerusalem Timur.
Kecaman itu dilontarkan Hillary saat berbicara via hubungan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Jumat (12/3) waktu setempat. Pernyataan ini bisa jadi menampar Israel.
Selama ini, Menteri Luar Negeri AS itu jarang sekali mengecam Tel Aviv. Menurut mantan Ibu Negara AS itu, proyek pembangunan rumah di Yerusalem Timur itu menunjukkan sinyal negatif terhadap hubungan bilateral kedua negara.
Selain Hillary, Kuartet Timur Tengah, yaitu Uni Eropa, Rusia, AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki pendapat yang sama. Negara dan badan internasional tersebut menolak keras pembangunan unit rumah di Israel.
Hillary menyebut Israel merusak upaya AS untuk melanjutkan kembali pembicaraan perdamaian Israel-Palestina. Hillary menambahkan, Israel telah melawan apa yang pernah diperjuangkan wakil Presiden AS, Joe Biden saat melawat ke Timur Tengah. "Israel telah melecehkan Biden," papar Hillary saat diwawancarai CNN.
Juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) AS Philip Crowley menyatakan, Hillary tidak habis pikir terhadap kenekatan Israel. Menurut Crowley, apa yang dilakukan Israel bisa melahirkan tensi tinggi dalam hubungan kedua negara. Crowley menekankan, Israel harus bisa menunjukkan komitmen dalam proses perdamaian yang tengah diperjuangkan.
"Israel harus bisa menunjukkan bukti dan melakukan sesuatu, bukan hanya bicara," paparnya. Hillary pantas gusar, karena AS sudah lama memperjuangkan perdamaian Israel dan Palestina.
Juni 1990, Menlu AS saat itu, James Baker sempat dilawan pemerintah Israel. PM Israel waktu itu, Yitzhak Shamir terang-terangan menantang Baker. "Saat Anda benar-benar serius tentang perdamaian, segera katakan kepada kami (Israel)," tegasnya.
Beberapa analis politik menilai, kecaman Hillary dan reaksi Israel bakal menangguhkan prose perdamaian di Timur Tengah. "(Hillary) Clinton dan Biden adalah teman baik Israel. (Presiden AS pada 1990 George H W) Bush dan Baker tidak terlalu dekat," papar seorang analis.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Israel menegaskan, Israel tetap akan membangun 1.600 unit rumah di Yerusalem Timur. Langkah Israel sepertinya bukan hanya membuat Hillary gusar, namun membuat marah pemimpin Palestina. Apalagi Palestina telah sepakat untuk membangun dialog baru dengan Israel.
Pembangunan pemukiman Israel tidak semulus yang dibayangkan Netanyahu. Sabtu (6/3), sedikitnya 3.000 warga Israel berunjuk rasa menentang pembangunan permukiman Yahudi di Yerusalem Timur.
Mereka merentangkan spanduk bertuliskan "Shalom" (salam damai dalam bahasa Ibrani). Pengunjuk rasa meneriakkan semboyan, seperti "Tidak untuk pembersihan bangsa" dan " Kami akan merintangi jalan ke permukiman". (Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//rhs)