Getting Time...

Pendukung Thaksin Bergerak Menuju Markas Militer

Fajar Nugraha
Senin, 15 Maret 2010 12:11 wib
Pendukung Thaksin di Bangkok (Foto: AP)
Pendukung Thaksin di Bangkok (Foto: AP)
BANGKOK - Ratusan ribu massa pendukung mantan Perdana Menteri (PM) Thaksin Sinawathra masih menyesaki Ibukota Thailand, Bangkok. Mereka melakukan protes menuntut PM Abhisit Vejjajiva untuk turun dari jabatannya.

Massa antipemerintah ini mulai bergerak menuju markas militer Thailand sambil meminta pemerintah untuk membubarkan parlemen. Ribuan massa tersebut bergerak menuju markas resimen infanteri ke-11 Thailand di Bangkok.

PM Abhisit yang menjadi target dari massa pendukung Thaksin ini menolak permintaan mundur yang dilayangkan oleh para pendemo.

"Meminta pembubaran parlement sebagai ganti dari penghentian aksi demonstrasi tidak dapat dipenuhi. Tetapi bukan berarti permintaan rakyat ini tidak didengar oleh Pemerintahan koalisi Thailand," ungkap PM Abhisit dalam pengumumannya lewat jaringan televisi lokal.

Sekira 100 ribu kelompok massa yang biasa disebut "si kaus merah" ini sudah tampak memenuhi Bangkok sejak hari Jumat 12 Maret lalu. Pihak keamanan Thailand sendiri telah mengerahkan sekira 50 ribu pasukan keamanan gabungan yang terdiri dari tentara, polisi serta unsur keamanan lainnya.

Sebelumnya banyak pihak jika aksi protes ini akan berakhir dengan kerusuhan. Namun kelompok massa yang menamakan dirinya Front Demokrasi Bersatu melawan Kediktatoran (UDD) ini membuktikan jika mereka melakukan protes dengan damai. Mereka juga kukuh dalam tuntutan mereka yang meminta PM Abhisit untuk turun dari jabatannya.

Massa pendukung Thaksin ini menganggap jika jabatan Abhisit sebagai PM Thailand diraih dengan jalan yang tidak berdasarkan dengan hukum. Mereka meyakini jika PM lulusan Inggris ini meraih jabatan Perdana Menteri Thailand atas bantuan pihak militer dan kelompok politik lain yang tidak senang dengan Thaksin.

Dalam rekaman video yang ditayangkan oleh pendukungnya, Thaksin meminta para demonstran untuk melakukan aksi protes dengan damai. Ia juga menuduh pemerintahan saat ini merupakan inti permasalahan dari kondisi Thailand saat ini.

"Pemerintah tidak memiliki nurani untuk mengatasi permasalahan demokrasi, kesetaraan serta keadilan yang terjadi di Thailand," ungkap Thaksin dalam videonya, seperti dikutip Associated Press, Senin (15/3/2010).

Thaksin meraih jalanan sebagai Perdana Menteri Thailand pada tahun 2001 namun kekuasaannya berakhir akibat kudeta pihak militer pada tahun 2006. Ia kini dalam pengasingannya di Dubai dan menolak kembali pulang ke Thailand setelah dinyatakan bersalah atas kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pengusaha media tersebut dijatuhi hukuman penjara dua tahun oleh pihak pengadilan Bangkok beberapa tahun lalu. Selain itu pihak pengadilan juga memutuskan untuk menyita sekira 60 persen aset milik Thaksin.

Jika kembali kembali berkuasa, mantan pemilik klub Liga Inggris Manchester City itu berjanji akan mengembalikan kesejahteraan rakyat. Thaksin juga menjanjikan akan memperbaiki ekonomi Thailand yang saat ini sedang terpuruk. (faj)(rhs)
TWITTER »
twit