Menlu Inggris David Miliband (Foto: wikipedia)
BEIJING - Menteri Luar Negeri (menlu) Inggris David Miliband kemarin berada di China untuk menggelar perundingan mengenai beberapa masalah. Kedua negara saat ini masih tidak sepakat mengenai masalah perubahan iklim, program nuklir Iran, dan eksekusi warga Inggris Akmal Shaikh.
Namun demikian, Miliband menganggap hubungan China dan Inggris sangat luas dan kedua negara seharusnya menjadi mitra, dibandingkan kompetitor. "Masa depan kita dan masa depan China akan selalu bersama," paparnya.
Selama kunjungannya, Miliband akan membujuk China untuk menunda sikap oposisinya terhadap paket sanksi keempat terhadap Iran karena tidak mau mengakhiri program pengayaan nuklirnya.
Dari lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Amerika Serikat (AS), Prancis, Inggris, Rusia, hanya China yang tetap bersikerap bahwa masalah program nuklir Iran dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.
Jika China yang memiliki hak veto tetap menentang resolusi, maka DK PBB tidak dapat menerapkan sanksi apa pun terhadap Teheran. Iran menegaskan bahwa program pengayaan nuklir untuk kepentingan sipil, tapi Barat khawatir bahwa Teheran akan mengembangkan bom nuklir.
Tahun lalu, hubungan China dan Inggris cukup tegang karena Beijing mengabaikan permintaan pribadi dari Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown agar tidak mengeksekusi warga Inggris, Akmal Shaikh, 53, atas tuduhan penyelundupan obat-obatan terlarang. Keluarga Shaikh mengklaim bahwa dia menderita sakit jiwa.
Sementara dalam masalah perubahan iklim, China menolak hasil kesepakatan Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark. Menteri Perubahan Iklim Inggris Ed Miliband menuding China telah melakukan dua veto terhadap dua kesepakatan untuk pembatasan emisi.
Namun, Beijing menyatakan tuduhan tersebut hanya skenario politik semata. Departemen Luar Negeri Inggris menyatakan China mengakui Inggris sebagai mitra penting, meski ada beberapa wilayah perbedaan.
"Saya pikir China ingin memiliki hubungan di ranah yang memiliki kesamaan pandangan. Tapi sangat penting agar perbedaan yang ada tidak disembunyikan sehingga dapat mengembangkan kerjasama modern yang efektif," paparnya.
Menurut Menlu Miliband, hubungan yang dewasa tidak bergantung pada kesepakatan yang terjadi setiap saat. Kemarin, Miliband mengunjungi markas pelatihan pasukan perdamaian PBB di China. Hari ini, dia akan bertemu Menlu China Yang Jiechi dan PM China Wen Jiabao.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Qin Gang mengungkapkan kunjungan Miliband akan membicarakan pertukaran ide antara China dan Inggris. Selain itu, dia mengungkapkan, permasalahan internasional dan regional juga akan dibahas. Bukan hanya Inggris yang berusaha memperbaiki hubungan yang memanas dengan China.
AS juga kerap bersitegang dengan Beijing. Ketegangan terbaru antara AS dan China terkait rencana penjualan senjata Washington ke Taiwan, pertemuan Presiden AS Barack Obama dengan Pemimpin Spiritual Tibet Dalai Lama, dan masalah penanganan nuklir Iran.
AS pun mengirimkan para pejabatnya untuk melunakkan ketegangan, termasuk Deputi Menlu AS James Steinberg dan Penasehat Senior Gedung Putih untuk Asia Jeffrey Bader. Tapi lawatan itu tetap tidak meraih hasil optimal.
Para pengamat pun sepakat, Beijing akan berusaha mempertahankan perbedaan sikapnya dari negara mana pun untuk menunjukkan eksistensinya. (Koran SI/Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//rhs)