Pesantren Rahmani
BIHAR - Rahmani 30, merupakan contoh sukses pondok pesantren (Ponpes) bagi kalangan Muslim India. Pondok pesatren ini banyak mengantarkan anak didiknya ke gerbang masa depan cerah. Berlokasi di Patna, ibu kota negara bagian Bihar, sekolah yang berbentuk seperti rumah mewah berusia 100 tahun itu bercat kuning terlihat mencolok.
Di dalam, ada sebuah ruangan kecil nan gelap, seorang pemuda sedang membaca kitab suci Al Quran. Usia mereka masih belasan, beberapa di antara mereka memakai peci putih dan mendengar sang guru dengan penuh perhatian.
Dilihat sekilas, itu merupakan salah satu pondok pesantren atau madrasah dimana pemuda Muslim mendapatkan ilmu agama. Tapi, itu bukan pondok pesantren biasa. Setelah berdoa, para anak lelaki itu pergi ke ruang kelas membawa pena dan buku di tangan mereka.
Kini, mereka belajar tentang matematika. Sama seperti ketika belajar agama, anak-anak itu pun memperhatian dengan penuh seksama. Itulah gambaran sekilas dari Rahmani 30, sebuah institut pelatihan yang menyiapkan anak muda kurang mampu secara finansial tetapi berprestasi untuk masuk ke kampus teknik - Institut Teknologi India (IIT).
Maklum, sebagai kaum minoritas di India, pemuda Muslim tidak terlalu mendapatkan kepedulian penuh. Apalagi, mereka berada pada strata terbawah dalam peringkat sosial dan ekonomi di India. Rahmani 30 merupakan gagasan dari anggota polisi senior Bihar, Abhyanand.
Dia rela menghabiskan waktu luangnya untuk mengajar olah raga bagi para siswa. Sebenarnya, Rahmani 30 terinspirasi dari sekolah serupa, the Super 30, tempat Abhyanand bekerja, yang juga ditujukan bagi anak-anak kurang mampu tetapi bukan umat Muslim.
"Di negara kita, sangat sulit untuk mengikuti ujian karena jumlah siswa yang lulus sangat sedikit," papar Abhyanand.
Namun, kelebihan dari Rahmani adalah siswa yang belajar dari kalangan kurang mampu tetapi memiliki niat mendalam untuk terus maju serta memiliki masa depan yang cerah.
"Mereka berasal dari wilayah pedesaan dan itulah kekuatan mereka. Mereka semakin kompetitif, karena mereka, akan menghadapi kemenangan atau kekalahan," papar Abhyanand. "Jika mereka tidak mewujudkan mimpi itu, mereka tidak akan mendapatkan status sosial dan ekonomi," imbuhnya.
Sementara menurut Irfan Alam, 15, putra seorang tukang cukur yang bersiap-siap mengikuti ujian IIT pada 2011, mengaku bergabung dengan Rahmani merupakan kesempatan besar. "Saya ingin berbuat sesuatu dalam kehidupan saya, karena seseorang," ucapnya sambil malu-malu.
Filosofi sekolah tersebut terinspirasi dari ide sebuah madrasah atau pondok pesantren. "Itu merupakan program yang sempurna. Para gurunya sangat menakjubkan dan bagian paling penting adalah semuanya cuma-cuma," papar Irfan.
Rahmani 30 merupakan perpaduan yang sangat fantastis dari sekolah modern dan tradisional. "Filosofi dasar dari sebuah madrasah adalah kehidupan anak lelaki, makan, dan belajar bersama. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, semuanya sama," ujar Maulana Wali Rahmani, ulama berpengaruh yang memimpin lembaga pendidikan tersebut.
Menariknya, menurut Rahmani, dalam pondok pesantren terdapat budaya debat. "Ini merupakan pengalaman saya ketika tumbuh besar di sebuah madrasah. Kita berpikir mengapa tidak, model ini dapat diterapkan dengan arahan baru dan apa yang kita inginkan," ujarnya.
Jika Anda tertarik melihat kesuksesan model pendidikan Rahmani 30, Anda harus menempuh perjalanan sekitar 1.000 km dari ibu kota India, New Delhi. Namun, ada perbedaan mencolok antara apa yang ada di Rahmani 30 dengan kampus IIT yang mewah.
Di kampus itu, anak muda, baik laki-laki atau pun perempuan, berlalu lalang ke kelas, mengenakan jeans dan kaus, serta membawa tas di pundak mereka.
Siapa yang kuliah di IIT bakal bekerja di perusahaan piranti lunak ternama atau bergabung dengan Silicon Valley, pusat industri teknologi informasi di Amerika Serikat.
Salah satu alumni Rahmani 30 yang berhasil menembus IIT adalah Shadman Anwar. Dia merupakan satu dari 10 siswa Rahmani yang lulus ujian masuk IIT. "Semuanya seperti mimpi yang terwujud. Kuliah di IIT merupakan impian semua pemuda," paparnya. (Koran SI/Koran SI)(//rhs)