MEXICO CITY - Casa Xochiguetzal yang berarti rumah dengan bunga-bunga yang cantik terlihat seperti tempat pelacuran di salah satu bagian wilayah berbahaya di Mexico City, Meksiko. Namun, ketika ada pria hidung belang masuk ke rumah tersebut, maka dia pasti langsung diusir 23 nenek-nenek yang tinggal di tempat tersebut.
Yah, rumah tersebut bukanlah rumah bordil, sebagaimana yang tersebar di kawasan itu. Rumah itu adalah tempat peristirahaan para mantan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang sudah pensiun.
Seorang mantan PSK bersedia menceritakan pengalamannya kepada siapa saja yang mau mendengarkannya. Berbagi cerita itu menjadi obat baginya untuk menutupi masa-masa pahit masa lalunya. "Saya pernah menikah. Tapi suami saya meninggal dalam suatu kecelakaan," paparnya.
Nenek lain yang tinggal di rumah itu adalah Canela, 75. Dia berbicara sangat pelan dan terlihat sangat letih dalam menjalani kehidupan ini. Canela mengaku meninggalkan dunia hitam empat tahun lalu. "Untuk hidup di masa yang sangat keras, saya menjual manisan," paparnya.
Canela menceritakan, dulu, sewaktu menjadi PSK, kehidupannya sangatlah keras. "Saya selalu berpindah-pindah tempat mencari tempat yang ramai," paparnya. Dia mengaku, banyak teman-temannya yang menawarinya untuk kembali ke dunia yang pernah membesarkannya. "Tapi, saya ingin menikmati ketenangan di masa tua. Tawaran itu saya tolak semua," tegasnya.
Di Casa Xochiguetzal, ada juga nenek yang masih aktif melayani pria hidung belang. Hanya, mereka melayani tamu di luar rumah tersebut. Salah satunya adalah Paola, 61. Tanpa malu-malu dia bercerita masih sering melayani lelaki yang menginginkan pelayanan plus dari seorang nenek.
Meski telah keriput dan penampilan tak menarik, menurut Paola, masih banyak lelaki yang ingin berfantasi. Selain Paola, ada juga Lulu, 61, yang masih aktif bekerja. Lulu mengaku sering mendapatkan tamu anak muda yang ganteng. Dia pun sangat senang jika tamunya berusia jauh dibawahnya.
"Saya biasanya melayani dua sampai tiga tamu sehari. Kadang, empat orang dalam sehari," paparnya. "Selama saya tinggal di Casa Xochiguetzal, saya tidak pernah dilarang untuk tetap bekerja. Jadi ya, saya jalan terus," imbuhnya.
Bisa dikatakan Casa Xochiguetzal memang seperti pantai jompo. Aktivitas di tempat tersebut pun tidak jauh berbeda dengan penampuan orang lanjut usia. Para perempuan itu menari, makan, dan minum bersama-sama. Mereka sering bersenda gurau.
Sayangnya, jarang sekali anak-anak dan cucu dari nenek tersebut mau datang ke Casa Xochiguetzal. Padahal mereka haus sentuhan hangat dan perhatian keluarga.
Dahulu, para perempuan ini rela terjun ke lembah hitam demi masa depan anak-anak mereka dan menjaga agar generasi penerus mereka itu tidak mengikuti jejak para nenek ini. (Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//rhs)