Getting Time...

LRA Bunuh 321 Warga Kongo

Selasa, 30 Maret 2010 09:14 wib
Pasukan LRA (Foto: Reuters)
Pasukan LRA (Foto: Reuters)
KINSHASA - Desember lalu, kelompok pemberontak Uganda, Lord's Resistance Army (LRA) menyerang dan membunuh 321 warga pedesaan di DR Congo.

Laporan tersebut dirilis Badan Pengawas Hak Asasi Manusia (HRW) di Kampala, kemarin. Menurut rincian HRW, sebanyak 250 orang dewasa dan 80 anak-anak diculik LRA pada 14-17 Desember 2009. Korban berasal dari kawasan terpencil Makombo di sebelah timur distrik Haut Uele.

Sebelum HRW mengemukakan laporan, seorang pastor di Isiro-Niangara menyebut 30 anggota LRA menyerang lusinan desa di Haut Uele. "Mereka membunuh 300 orang. Sebelumnya mereka menculik 200 sampai 400 warga desa," paparnya.

Angka yang dilaporkan pastor tersebut hampir sama dengan jumlah yang dirilis HRW. Laporan HRW yang dirilis kemarin diberi tajuk "Perintis Kematian: Kekejaman LRA di Timur Laut Kongo".

Dalam laporannya HRW menulis, sebagian besar korban berusia dewasa. Sebelum membunuh korban, LRA mencekik leher korban. "Kemudian mereka memukul kepala korban dengan kapak atau peralatan kayu lain," tulis HRW.

Kekejian LRA telah menewaskan 13 perempuan dan 23 anak-anak. "Korban termuda berusia tiga tahun," papar tim HRW yang sempat melakukan kunjungan ke Kongo, Februari lalu. Desember lalu, kelompok pemberontak LRA berjalan kaki sejauh 100 kilometer.

Mereka masuk-keluar desa dan menyerang ratusan warga di timur laut Kongo. Menurut laporan HRW, peristiwa Makombo tersebut adalah tragedi pembunuhan massal terburuk dalam sejarah LRA. HRW mengaku prihatin, karena tragedi Makombo tidak dilaporkan selama berbulan-bulan.

Peneliti HRW untuk kawasan Afrika, Anneke Van Woudenberg menyatakan, serangan empat hari oleh LRA adalah masalah yang sangat serius. Kekejian LRA tidak bisa ditolerir lagi. "Ratusan warga tak berdosa telah tewas," papar Anneke.

Dia semakin prihatin karena warga desa di timur laut Kongo mengalami trauma berkepanjangan. "Beberapa pekan pasca serangan, orang-orang masih mencium bau kematian," katanya.

Menurut Anneke, apa yang dilakukan LRA lebih dari sekadar brutal. "Siapa pun tidak bakal menerima kekejian seperti itu," tandasnya.

Beberapa korban LRA yang berhasil melarikan diri menyebut kelompok pemberontak itu "brutal ekstrem". LRA tidak hanya menyerang warga desa yang berada di dalam rumah. Mereka membunuh siapa saja yang mereka temui di perjalanan.

"Sebagian besar korban dewasa adalah laki-laki. Kepala mereka ditusuk dengan benda tajam," ungkap pengacara setempat, Jeanette Abakuba.

Selain mengincar laki-laki dewasa, LRA juga menyerang anak-anak berseragam yang sedang berjalan kaki menuju ke sekolah. Pedesaan yang menjadi target LRA berada sekitar 40 kilometer sebelah selatan kota Niangara.

Jajaran desa tersebut adalah Mabanga, Makombo, Ngbiribi, Tapili dan Kiliwa. Kini, warga desa di timur laut Kongo masih takut beraktivitas di luar ruangan. "Mereka berhenti bertani. Mereka takut diserang," papar Anneke. (Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//faj)
TWITTER »
twit