Korban gempa China (Foto: Reuters)
YUSHU - Cuaca dingin serta terpencilnya lokasi yang terkena gempa membuat evakuasi korban di Jiegu Yushu, Provinsi Qinghai, China, terhambat. Berada di ketinggian 4.000 meter membuat Jiegu sangat sulit dijangkau. Hingga kemarin, korban tewas melebihi 617 orang.
Wilayah yang menjadi pintu gerbang ke Tibet tersebut terletak 800 km barat daya China dan harus ditempuh 12 jam dari Xining, ibu kota Provinsi Qinghai. Terpencilnya lokasi membuat tim search and rescue (SAR) sulit untuk menjangkau lokasi gempa.
"kami membutuhkan anestetis, dan alkohol," papar Karma Sherab, dokter yang bertugas di lokasi gempa. Terhambatnya bantuan ini bisa berakibat fatal bagi korban selamat. Minimnya tenda membuat warga selamat tidur di tempat terbuka hingga memperburuk kondisi mereka yang lemah.
Hanya sehari setelah gempa berkekuatan 6,9 Skala Richter, Rabu (14/4) lalu, korban tewas dan luka terus bertambah. Korban luka-luka jumlahnya mencapai 9.000 orang lebih. Sedangkan korban tewas dipastikan akan terus bertambah karena masih ada 313 orang yang tertimbun di bawah bangunan.
Tentara dan penduduk berusaha mencari dan menggali korban menggunakan sekop serta tangan. Pemerintah sebenarnya sudah mengirim berbagai alat berat untuk mengevakuasi korban. Namun sebagian besar peralatan itu belum sampai ke lokasi, sehingga pencarian dilakukan secara manual. Cuaca dingin merepotkan berbagai pihak yang akan melakukan evakuasi.
"Cuaca yang membeku, lokasi yang berada di ketinggian dan udara sangat lembab membuat upaya penyelamatan sangat susah," kata Hou Shike, Wakil Kepala Tim SAR China kemarin. Bahkan cuaca yang membeku membuat anjing pelacak tidak bisa diajak bekerja sama.
"Mungkin karena penyakit ketinggian, anjing pelacak tidak mau bekerja," ujar Chang Zhiqiang, salah satu pejabat sekolah di Yushu. Gempa juga membuat jalur transportasi, komunikasi, serta listrik di sebagain besar wilayah Qinghai putus.
Gempa Yushu terjadi sekitar pukul 7.49 pagi waktu setempat. Episentrum gempa berada di kedalaman 33 km dan berda di Rima Village, Shanglaxiu, sekitar 50 km barat Jiegu. Banyaknya korban di Jiegu kembali mengingatkan tragedi gempa di Provinsi Sichuan yang menewaskan 87.000 orang.
Gempa tersebut menjadi yang terburuk dalam tiga dekade terakhir di China. Provinsi Qinghai sebelumnya pernah diguncang gempa pada April 1990 yang menewaskan 126 orang. Provinsi ini berpopulasi sekitar lima juta orang yang datang dari berbagai etnis seperti suku Han, Tibet, Hui, dan Mongol.
Jiegu yang merupakan kawasan perbatasan antara China dan Tibet berpenduduk sekitar 350.000 orang. Presiden China Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao kemarin mendesak agar semua pihak mempercepat evakuasi korban gempa dan penyaluran bantuan.
Dalam dua perintah tertulis yang terpisah, Hu dan Wen meminta pemerintah setempat berkoordinasi dengan berbagai pemberi bantuan. (Koran SI/Koran SI/Koran SI/maesaroh)(//faj)