Ilustrasi: Ist
NEW YORK - Perhatian masyarakat internasional meningkat drastis sejak adanya gerakan Hari Bumi pada 40 tahun lalu yang kini diperingati tiap 22 April.
Kini, masyarakat telah menikmati hasilnya ketika individu dan perusahaan, bahkan pemerintah lebih peduli terhadap isu lingkungan. Profesor William Moomaw, pakar lingkungan Amerika Serikat (AS), mengatakan lingkungan saat ini lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.
Hal ini disebabkan adanya pendidikan terhadap komunitas sebagai gerakan sosial lingkungan. Hal itu dikaitkan antara status ekonomi dan umur bumi yang makin tua. "Masyarakat semakin realistis mengenai berapa besar tantangan lingkungan saat ini," ujar Tom Athanasiou, Direktur EcoEquity, lembaga yang peduli dengan perubahan iklim.
Sementara itu, rumah lelang di New York, Christie, menggelar lelang sejumlah "pengalaman", termasuk satu putaran golf bersama mantan Presiden AS Bill Clinton. Lelang tersebut diselenggarakan untuk menggalang dana bagi ulang tahun Hari Bumi ke-40.
Berbagai "pengalaman" yang dilelang ialah lima hari berlibur di Bali, dua tiket ke 2011 Vanity Fair Oscars After Party di mana para pemenang dapat bergaul dengan tokoh Hollywood. Selain itu, safari fotografi ke Botswana untuk enam orang bersama pemimpin redaksi majalah National Geographic Chris Johns.
Pendapat lain terkait peringatan Hari Bumi dikemukakan pakar lingkungan Universitas Diponegoro Semarang, Prof Sudharto P Hadi. Dia mengatakan, Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April harus dimaknai dengan perubahan sikap sehari-hari.
"Seperti mengubah pola konsumsi yang semula cenderung boros dan mengurangi penggunaan energi," katanya di Semarang, kemarin.
Menurut dia, langkah untuk mengurangi penggunaan energi bisa dilakukan mulai saat ini. Antara lain dengan menghemat penggunaan air dan listrik, atau memilih menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan saat bepergian.
"Semangat Hari Bumi sudah selayaknya merasuk dan larut dalam kehidupan, sebab berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, abrasi pantai, pencemaran, dan kerusakan hutan saat ini sering terjadi," ujarnya.
Dia mengungkapkan, kebijakan yang diambil oleh pemerintah di sektor kelembagaan publik di era otonomi daerah ternyata semakin meminggirkan aspek lingkungan demi target mengejar pendapatan asli daerah (PAD).
"Di Hari Bumi ini, kita layak mencermati pesan yang disampaikan Mahatma Gandhi bahwa bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi bukan untuk keserakahan," kata Ketua Program Magister Ilmu Lingkungan Undip tersebut.
Di sisi lain, peringatan Hari Bumi tahun ini diperingati ribuan aktivis lingkungan di Pulau Serangan, Bali, kemarin.
Di pulau yang terletak di selatan Kota Denpasar itu, mereka mencanangkan gerakan "Coral Day". Sejumlah aktivis lingkungan yang terlibat antara lain Telapak, Kehati, GEF-SGP, TNC, Terangi, Bahtera Nusantara dan Reef Check Indonesia.
Kegiatan itu juga mendapat dukungan Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) dan sejumlah perusahaan peduli lingkungan. Kegiatan yang dilakukan di antaranya penanaman karang yang menjadi tujuan utama gerakan ini.
"Gerakan ini diharapkan dapat menjadi cikal bakal bangkitnya kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi terumbu karang, terutama dalam menghadapi perubahan iklim," ujar aktivis Telapak Erry Damayanti. (Koran SI/Koran SI)(//faj)