YANGON - Partai demokrasi yang dipimpin Aung San Suu Kyi saat ini tengah bersengketa dengan faksi separatis mengenai penggunaan topi bambu sebagai simbol dalam pemilihan tahun ini.
National League for Democracy (NLD) yang dipimpin Suu Kyi memenangkan pemilihan yang berlangsung pada tahun 1990, dengan menggunakan topi bambu sebagai simbolnya, walaupun kemenangan itu dimentahkan oleh rezim militer yang berkuasa.
Suu Kyi dan para pendukungnya berencana untuk menggunakan simbol topi bambu tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan yang saat ini berkuasa.
Militer sendiri berjanji akan menjalankan pemilu pada tahun ini, yang pertama dilakukan pada tahun 1990, walaupun NLD memboikot menentang undang-undang pemilu yang dianggap tidak adil yang telah memenjarakan Suu Kyi dan mantan politikus lainnya.
Tapi salah satu faksi telah memisahkan diri dari NLD, yang secara resmi dibubarkan setelah menolak untuk mendaftarkan suara, dan saat ini melakukan pemilihan dengan menggunakan topi bambu sebagai simbolnya.
"Kami saat ini tengah mempersiapkan keluhan mengenai penggunaan topi bambu itu," ujar anggota senior dari pecahan NLD Nyan Win, seperti dilansir Reuters, Sabtu (3/7/2010).
Pemilihan yang masih belum ditentukan tanggalnya itu secara luas dianggap sebagai pemilihan yang palsu untuk menciptakan demokrasi di sebuah negara yang dipimpin oleh militer selama hampir lima dekade.
Anggota pendiri faksi pecahan NLD National Democratic Force, Khin Maung Swe menolak keluhan yang dilontarkan mantan rekannya itu.
"Simbol ini tidak dimiliki oleh NLD. NLD tidak memiliki paten atas simbol itu," ujarnya.
Selain itu, imbuhnya, desain dari topi untuk partainya itu berbeda dengan NLD yang lama, dengan menunjukkan dua buah bintang di atas simbol topinya yang baru.
Tapi Nyan Win mengatakan bahwa topi bambu yang mereka miliki adalah imitasi dari partainya, dia pun akan melayangkan keluhan kepada Komisi Pemilihan pada Senin nanti.
(rhs)