Getting Time...

Amiri: Saya Bukan Ahli Nuklir

Jum'at, 16 Juli 2010 10:28 wib
Sharam Amiri (Foto: BBC)
Sharam Amiri (Foto: BBC)
TEHERAN  – Shahram Amiri, ilmuwan Iran yang diculik agen Amerika Serikat (AS), kemarin membantah dirinya merupakan ilmuwan nuklir.

Dia menyatakan bahwa dia hanya ilmuwan biasa yang bekerja untuk sebuah universitas. Dia juga menyangkal terlibat dalam program nuklir Iran.

“Saya tidak memiliki kaitan dengan pusat pengayaan nuklir Natanz dan Fordo. Saya tidak terlibat dalam pekerjaan rahasia apa pun. Saya tidak memiliki informasi rahasia,” bebernya. 

“Itu hanya dijadikan alat bagi pemerintah AS untuk memberikan tekanan politik. Saya tidak memiliki penelitian di bidang nuklir. Saya seorang peneliti biasa yang bekerja di sebuah universitas terbuka dan tidak ada rahasia di sana,” papar Amiri. 

Dalam konferensi pers, Amiri mengatakan dalam dua bulan awal penangkapannya dia menghadapi penyiksaan mental keras. Dia mengatakan, penangkapannya merupakan perang psikologis melawan Iran.

“Dalam proses interogasi,ada penyidik dari Israel hadir dalam beberapa sesi.Mereka juga berencana memindahkan saya ke Israel,”ujarnya.

Amiri juga mengkritik Menteri Luar Negeri Hillary Clinton yang menyatakan bahwa dia bisa bebas datang dan pergi dari dan ke AS kapan pun. “Saya sangat heran dengan pernyataan Hillary bahwa saya bebas di sana dan dapat pergi dengan bebas. Saya tidak bebas di sana dan saya berada di bawah pengawasan orang bersenjata dari badan intelijen,”tandasnya. 

Amiri yang mengenakan jas dan tampil tersenyum disambut di bandara internasional Teheran kemarin pagi dengan isak tangis istri dan anaknya. Selain itu hadir menyambut dia kerabatnya serta pejabat senior Kementerian Luar Negeri Hassan Qashqavi. 

Dalam jumpa pers, dia mengulang kembali klaimnya bahwa dia diculik agen-agen AS ketika menunaikan ibadah Haji di Madinah, Arab Saudi. Dia menuduh agenagen Israel hadir selama interogasi dan CIA menawarkan dia USD50 juta (Rp465miliar) agar mau tinggal di AS. 

“Amerika ingin agar saya mengatakan saya membelot ke Amerika atas keinginan sendiri untuk menggunakan saya membongkar informasi palsu mengenai program nuklir Iran,”papar Amiri. 

Amiri tidak menyodorkan bukti- bukti klaimnya, namun dia mengatakan nanti akan memperlihatkannya.“ Saya memiliki sejumlah dokumen untuk membuktikan bahwa saya tidak bebas di Amerika Serikat dan selalu di bawah kendali agen-agen bersenjata dinas intelijen Amerika,”katanya. 

Sementara itu, laporan yang diungkapkan The Washington Post menyatakan bahwa agen rahasia Amerika Serikat CIA membayar ahli nuklir Iran USD5 juta (Rp45 miliar) untuk informasi tentang program nuklir Iran.

Pejabat keamanan yang tak menyebutkan identitasnya menyatakan, Amiri tidak wajib mengembalikan uang,namun mungkin tak bisa mengakses usai mengakhiri kerja sama signifikan dengan CIA dan kembali ke rumah, lanjut laporan koran tersebut. (Koran SI/Koran SI/Koran SI/andika hm) 
(//faj)
TWITTER »
twit