JOHANNESBURG – Pendeta Anglikan Afrika Selatan Desmond Tutu kemarin mengumumkan akan pensiun dari kegiatan publik setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-79 pada Oktober mendatang.
Selama puluhan tahun, pria yang kini berusia 78 tahun itu menjadi barisan depan dalam perjuangan melawan apartheid dan ketidakadilan di seluruh dunia.
“Saya sudah melakukan banyak semampu saya dan saya butuh waktu untuk melakukan apa yang benar-benar ingin saya lakukan. Saya ingin lebih sedikit tenang,” ujar peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1984 ini.
“Waktu saat ini sudah mulai melambat,”imbuhnya saat menggelar jumpa pers di televisi nasional di Cape Town. Menurut Tutu, dia akan mundur pada Oktober, tepat saat dia berulang tahun ke-79 sehingga dia bisa menikmati teh di siang hari bersama istrinya, menikmati waktu yang lebih banyak bersama keluarga, dan menghabiskan waktu menyaksikan pertandingan kriket.
Tutu, yang pensiun lebih dari 10 tahun lalu dari posisinya sebagai pendeta Anglikan Cape Town, telah mendirikan yayasan perdamaian, memberikan nasihat kepada pemimpin politik, menjabat di sebuah dewan pensiunan negarawan global, dan menjadi pembicara publik yang aktif.
Penampilan terbarunya di depan publik adalah ketika dia berbicara di berbagai event untuk Piala Dunia yang digelar Afrika Selatan dari 11 Juni – 11 Juli silam.
Piala Dunia ini disebut banyak orang sebagai salah satu event terpenting dalam sejarah negara itu setelah berakhirnya apartheid pada 16 tahun lalu.
Tutu menandaskan, meski telah pensiun, dia tetap terus mengabdikan satu hari dalam sepekan untuk kelompok para pemimpin kondang dunia yang disatukan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela,The Elders (Para Sesepuh).
Kelompok ini berupaya menggunakan pengaruhnya untuk mendukung pembangunan perdamaian dan membantu mengentaskan kemiskinan dan penderitaan.
Tutu merupakan tokoh penting dalam perang melawan rezim minoritas kulit putih di Afrika Selatan, dengan membangun dirinya sebagai suara kesadaran nasional.
Posisinya di gereja memberikannya peluang untuk mengkritik sistem apartheid dan berulang kali dia menyerukan kesamaan hak dan sistem pendidikan umum.
Saat menggelar jumpa pers kemarin, Tutu mengakui momen memperkenalkan Mandela sebagai presiden Afrika Selatan salah satu momen paling hebat sepanjang hidupnya. “Saya katakan pada Tuhan,Tuhan,kalau saya mati sekarang, saya benar-benar tidak keberatan,”paparnya. (Koran SI/Koran SI/alvin)
(//faj)