BEIJING – Bencana banjir masih menghantam beberapa kawasan China.Khawatir banjir bakal menerjang lebih hebat,Perdana Menteri (PM) China Wen Jiabao meminta warga untuk waspada.
Kemarin sebagian besar kawasan Negeri Tirai Bambu diguyur hujan lebat. Seperti sudah diperkirakan pejabat meteorologi China, curah hujan lebih tinggi dari hari sebelumnya. Secara serempak badan meteorologi dan Pemerintah China merilis peringatan supaya warga siap dengan kemungkinan banjir selanjutnya.
Peringatan disampaikan berulang- ulang karena pemerintah tidak mau lagi kehilangan warga.Seperti diketahui, banjir yang menghantam China telah mengakibatkan sedikitnya 1.100 orang tewas atau hilang.
Kini warga diminta mewaspadai kondisi cuaca ini dengan maksimal.Warga China, khususnya yang tinggal di Provinsi Sichuan, mendapat perhatian yang lebih besar.
Beberapa hari sebelum peringatan dikeluarkan, pemerintah setempat telah mengevakuasi 100.000 orang dari wilayah Sichuan. Evakuasi dilakukan setelah banjir dan tanah longsor melanda kawasan Shicuan, Kamis 22 Juli. Akibatnya, 13 orang tewas dan 20 lainnya masih dinyatakan hilang.
Selain Sichuan, tetangganya,ProvinsiYunnan, Zhejiang,dan Fujian diminta bersiap menghadapi banjir kali ini. Ketinggian air dan curah hujan yang masih tinggi membuat Wen sempat kalut. Sabtu 24 Juli lalu dia menyatakan, China berada pada ”level krusial”. Dikhawatirkan, hujan yang belum menunjukkan sinyal bakal berhenti akan memperburuk kondisi sebagian kawasan China.
Kini Wen tengah sibuk mempersiapkan strategi pencegahan serta penanggulangan banjir berikutnya. Bayangkan,di beberapa kota di Sichuan hujan terus mengguyur selama 10 jam.Guyuran hujan menyebabkan lapisan tanah semakin rapuh dan akhirnya menimbulkan musibah lanjutan,termasuk tanah longsor.
Bencana susulan ini dengan mudahnya menghancurkan bangunan berlantai satu yang menjadi naungan sebagian besar penduduk Sichuan. Kantor berita Xinhua melaporkan, beberapa ruas jalan utama Sichuan tidak bisa dilewati karena diselimuti air bah.
Belum lagi sistem komunikasi,listrik,serta transportasi yang lumpuh bersamaan menyebabkan Provinsi Sichuan seperti kawasan mati. Ribuan warga memilih keluar dari rumah kemudian menetap sementara di tenda-tenda darurat di kawasan yang lebih tinggi dari kediaman semula.
Sementara, di Provinsi Shaanxi, utara Sichuan, dilaporkan sedikitnya 700 pekerja mulai merenovasi tanggul yang rusak akibat dihantam air bah. Tanggul ini memiliki fungsi penting terhadap sistem transportasi Shaanxi.Jika tanggul yang berada di bantaran Sungai Qianhe tersebut tidak lekas dibetulkan, jembatan rel kereta api terancam tidak bisa digunakan.
Di Shaanxi air Sungai Luofu meluap hingga ke Kota Huayin sehingga sekitar 16 km persegi tanah di kawasan itu diperkirakan bakal tergenang air. Akibatnya, 6.400 orang terpaksa harus dievakuasi dari rumah mereka.Aliran Sungai Luofu juga masuk ke Sungai Yellow, sungai kedua terbesar di China setelah Sungai Yangtze.
Jumat 23 Juli lalu ketinggian air bendungan nyaris mencapai angka 158 meter atau 17 meter lebih sedikit dari total kapasitas tanggul. Seperti Shicuan,banjir yang menghantam Shaanxi juga merenggut korban jiwa.Menurut laporan, tak kurang dari 14 warga tewas diterjang air bah. Laporan memilukan yang lain datang dari Kota Yichang,Provinsi Hubei.
Banjir disusul tanah longsor yang menerjang Yichang telah menewaskan sedikitnya enam warga. Hingga hari ini tak kurang delapan orang masih dinyatakan hilang. Sementara, pemerintah kota terpaksa mengevakuasi sekitar 7.700 orang yang tinggal di Yichang, yang berdekatan dengan bendungan Three Gorges Dam.
Three Gorges Dam, proyek pembangkit listrik tenaga air besar di Sungai Yangtze itu terus diawasi para petugas bendungan. Selain berusaha mengeringkan bendungan yang level airnya terus meningkat, mereka juga harus tetap mencegah air meluap ke permukiman di bawah bendungan. China,yang dikenal sebagai Negeri Tirai Bambu memang kerap dilanda banjir.
Sungai Yangtze yang membentang di kawasan China kerap meluapkan air dan menyebabkan banjir yang kian parah dari tahun ke tahun. Menilik sejarah bencana banjir di China, yang terburuk terjadi pada 1998. Banjir menewaskan 4.000 warga dan memaksa pemerintah mengevakuasi 18 juta penduduk.
Jumat 23 Juli lalu pemerintah merilis laporan bahwa 742 orang tewas dan 367 lainnya hilang dalam serangkaian bencana banjir yang terhitung sejak awal tahun ini. Sementara itu, sebanyak 120 juta warga lain menderita luka dan kerugian yang memilukan, termasuk rusaknya 670.000 rumah.
Bisa dipastikan China menderita kerugian yang sangat besar.Menurut laporan terakhir, jumlah kerugian mencapai 150 miliar yuan. (Koran SI/Koran SI/ anastasia ika)
(//faj)