Getting Time...

Myanmar Siap Gelar Pemilu

Jum'at, 13 Agustus 2010 10:19 wib
Aung San Suu Skyi tetap ingin boikot pemilu Myanmar (Foto: AFP)
Aung San Suu Skyi tetap ingin boikot pemilu Myanmar (Foto: AFP)
YANGON – Myanmar kemarin telah memulai persiapan penyelenggaraan pemilu pertama dalam dua dekade terakhir. Junta militer memberikan kesempatan bagi rakyatnya untuk memilih anggota parlemen regional dan nasional. 

Hingga saat ini, pemerintah junta militer belum mengumumkan tanggal pasti dan kapan pemilu itu akan digelar. Namun, negaranegara Barat mengkhawatirkan pemilu itu hanya menjadi ajang untuk menguatkan posisi junta di depan rakyatnya. 

Pemilu yang didasarkan pada konstitusi 2008 mengharuskan satu pertiga anggota parlemen diduduki oleh kubu militer. Sementara pemimpin oposisi yang menjalani tahanan rumah Aung San Suu Kyi dilarang mengikuti pemilu karena masih berstatus tahanan.

Partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memilih opsi memboikot pemilu karena aturan yang dibuat junta untuk mengekang Suu Kyi dan anggota oposisi lainnya yang dipenjara. Mantan juru bicara NLD Nyan Win mengungkapkan mereka berencana menggugat pemerintah pada bulan ini perihal pemilu. 

Hal itu diungkapkan Nyan Win setelah bertemu Suu Kyi di rumah tepi danaunya pada Rabu 11 Agustus. 

“Penegakan hukum sangat lemah. Tidak ada sistem yang akan sukses tanpa penekan hukum,” ujar Nyan Win mengutip pernyataan peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi. Ikon demokrasi Myanmar itu juga mengatakan, bahwa tidak ada data pemilu yang kini telah diumumkan dan itu menunjukkan bahwa situasi tidak normal. 

NLD berhasil memenangkan pemilu pada tahun 1990 silam, tetapi junta tidak mengizinkan partai yang dipimpin Suu Kyi untuk menguasai pemerintahan sehingga hasil pemilu pun tak dianggap ada. 

NLD saat ini mengalami perpecahan karena ada anggotanya yang menginginkan untuk ikut pemilu, tetapi Suu Kyi bersikeras untuk memboikot. 

Salah satu partai prodemokrasi yang bakal ikut pemilu pada Selasa 10 Agustus mengomplain kepada otoritas pemilu mengenai intimidasi anggotanya oleh personel keamanan. 

Ketua Partai Demokrat Thu Wai mengatakan polisi khusus telah mendatangi rumah anggotanya dan meminta mereka memberikan data pribadi dan foto. “Jika kita mundur dari situasi saat ini,tentunya rezim akan semakin senang,”ujar Thu Wai.

“Kita tidak akan bermimpi untuk mundur (dari pemilu),”katanya. Phyo Min Thein, seorang mantan tahanan politik yang mengundurkan diri dari Partai Demokratik Bersatu (UDP) pekan lalu mengatakan tidak akan berpartisipasi pada pemilu.

Phyo menilai pemilu kali ini dilaksanakan tidak jujur dan adil. “Kita akan mencoba untuk berbuat yang terbaik demi pemilu yang jujur dan adil.Karena hal itu tidak terjadi, kita akan memutuskan untuk mundur dari kontes demokrasi itu,”ujar Thein. (Koran SI/Koran SI/andika hm) 
(//faj)
TWITTER »
twit