Julia Gillard. (Foto : Daylife)
SYDNEY - Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengungguli Partai Liberal yang dipimpin Tony Abbott, dalam pemilu yang kemarin digelar di Negeri Kanguru.
Komisi Pemilu Australia (AEC) kemarin mengumumkan, dari sekitar 64, 78 persen suara yang telah dihitung, Partai Buruh berhasil unggul tipis dengan perolehan 50, 95 persen, sementara Partai Liberal meraih 49, 05 persen. Dengan hasil itu, sejauh ini Buruh berhasil mengamankan 62 kursi parlemen, sedangkan Liberal memperoleh 57 kursi dan Hijau (Greens) mendapatkan satu kursi di parlemen. Buruh membutuhkan 17 kursi lagi untuk bisa memenangkan pemilu. Namun, partai pimpinan Gillard ini bisa kalah, jika kehilangan 13 kursi.
Bila itu terjadi, maka Australia akan menghadapi kondisi hung parliament atau tanpa suara mayoritas. Pejabat dari Buruh atau Liberal sama-sama mengungkapkan Australia akan menghadapi kondisi hung parliament untuk kali pertama sejak tahun 1940 karena tidak satu pun dari kedua partai itu terlihat mendapatkan suara mayoritas di parlemen rendah 150 kursi. “Saya rasa hung parliament semakin jelas terlihat," papar Senator Libral Nick Minchin kepada ABC, setelah hasil perolehan suara sementara diumumkan ke seluruh penjuru negeri. "Saya tidak bisa melihat Koalisi (pimpinan Buruh) bisa mendapatkan 17 kursi yang dibutuhkan (untuk berkuasa). Saya bahkan melihat Partai Liberal akan mendapatkan 15 kursi lagi saat ini.”
Sentimen ini juga didukung baik oleh Menteri Luar Negeri Stephen Smith dan Menteri Keuangan Bayangan Joe Hockey. Keduanya menyebut pemilu Australia akan berakhir pada kondisi hung parliament. Sebelum pengumuman resmi dari AEC, beberapa lembaga survei telah mengeluarkan prediksi mereka. Hasilnya, sebagian besar mengunggulkan Gillard dengan selisih kecil dari Abbott. Survei yang diprakarsai Channel Nine, misalnya memprediksi Partai Buruh pimpinan Gillard bakal memenangi Pemilu dengan raihan 52 persen suara.
Sementara itu, Abbott kalah tipis dengan angka 48 persen. Perkiraan ini tidak jauh berbeda dengan hasil survei yang diadakan Sky News. Kemarin, Sky News merilis hasil survei yang ditutup pada pukul 18. 00 waktu setempat. Tercatat, Gillard memimpin dengan angka 51 persen, sedangkan Partai Liberal hanya sanggup meraih 49 persen. Nielsen juga tidak mau ketinggalan. Dalam survei yang dilaksanakan kemarin, Nielsen mencatat raihan 52 persen untuk Gillard, sementara Abbot dengan 48 persen suara. Semua masih berstatus “prediksi”. Angkanya pun terkesan sangat tipis. Segala kemungkinan bisa terjadi saat panitia pemilu secara resmi merilishasilpemungutansuara.
“Semua bergantung pada keseragaman pemilihan di seluruh Australia," papar David Briggs dari perusahaan pollingGalaxy kepada AFP. Pemilu Australia digelar dua bulan setelah Gillard menggulingkan kekuasaan Kevin Rudd sebagai perdana menteri. Pemungutan suara yang dibuka pukul 08. 00 waktu setempat diikuti oleh sedikitnya 14 juta warga Australia. Menurut beberapa pengamat, pemilu kemarin merupakan salah satu kompetisi paling ketat sepanjang gelaran pesta demokrasi Australia.
Kendati Partai Buruh lebih banyak diunggulkan, namun Gillard mesti berhati-hati di beberapa negara bagian. Terlebih di Queensland dan New South Wales, dua negara bagian dengan jumlah populasi terbanyak. Sebelum pos pemungutan suara dibuka, Abbott sempat muncul di beberapa program televisi, juga wawancara radio. Dia berbicara tentang pemilu yang segera dilaksanakan (saat itu). Secara lantang, Abbott menyebut Pemilu sebagai “satu hari saat kita bisa memilih ke luar dari pemerintah yang buruk”.
Pemilu, lanjut Abbott, merupakan hari saat masyarakat Australia bisa memilih pemerintah yang stabil, berkompeten serta menghargai uang para pembayar pajak. Bagaimana dengan Gillard? Siapkah dia dengan hasil pemilu nanti? Ditemui reporter di rumahnya di Melbourne, Gillard mengaku pemilu kali ini merupakan persaingan yang ketat. “Ini adalah persaingan yang berat, ketat dengan angka-angka yang cukup dekat. Namun, saya tetap menggunakan hak pilih saya,"katanya. Baik Gillard maupun Abbott menampilkan jurus demi memperjuangkan himpunan suara bagi partainya masing-masing. Abbott sempat mengeksploitasi beberapa divisi Partai Buruh setelah Rudd jatuh.
Tujuannya supaya warga memperoleh gambaran bahwa koaliasi Liberal-Nasional oposisi adalah jawaban terbaik demi perbaikan Australia. Di pihak yang berseberangan, Gillard yang dikenal sebagai mantan pengacara berharap warga menghargai upayanya untuk mengatasi persoalan ekonomi sepanjang resesi global. (AFP/BBC/Rtr/Xinhua/ika/koran si)(//rhs)