Presiden Barack Obama mengenakan sorban. (Foto : 777denny.files.wordpress.com)
DUNIA internasional mungkin berpikir perang Irak telah berakhir setelah mendengarkan pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pada Selasa 31 Agustus kemarin.
Obama mengklaim misi tempur AS telah berakhir. “Kita telah memenuhi tanggungjawabkita. Kinisaatnya untuk membalik halaman, ” katanya. Namun apakah semudah itu? Perjuangan Irak jelas belum berakhir. Irak hanya memasuki fase baru yang bisa jadi lebih berat. Pernyataan Obama tentang perang Irak tampaknya sedemikian gampang. Obama tidak menjelaskan tujuh tahun invasi AS yang dicanangkan pemerintahan Presiden George W Bush yang membuat Irak benar-benar hancur.
Lantas, untuk masa depan, Obama melontarkan rencana “kemitraan jangka panjang” dengan Irak dan memperbesar keterlibatan diplomatik. Namun dia tidak menjelaskan apakah maksud pernyataannya tersebut atau menjelaskan ide itu lebih terperinci kepada publik. Obama tahu bahwa rakyat AS khawatir dengan perang Irak. Jajak pendapat menunjukkan mereka merasa bahwa perang itu tidak berarti apa-apa. Obama pun enggan membuka kembali luka lama terkait isu perang Irak. Sebaliknya, dia menekankan telah menelepon Bush pada hari yang sama saat dia memberikan pidato.
Obama berulang kali memuji peran tentara AS selama di Irak. Namun tujuh tahun invasi AS di Irak tidak dapat diabaikan begitu saja. Yang pasti, trauma psikologis yang dirasakan rakyat Irak akibat invasi AS ini akan terus menghantui AS dan Irak. Ironisnya, beberapa tokoh Partai Republik mengkritik Obama karena tidak memuji langkah Bush untuk penambahan pasukan AS ke Irak yang membantu mengurangi konflik sektarian. Namun Obama tidak dapat mendukung langkah Bush di Irak tanpa mengevaluasi kesalahan yang menjadi alasan invasi ke Irak. Tidak ada satu pihak pun yang dapat menyembunyikan arogansi Gedung Putih di era pemerintahan Bush terkait kesalahan manajemen pascaperang yang mengakibatkan penderitaan rakyat Irak dan hilangnya nyawa ribuan tentara AS.
Memang, strategi penambahan pasukan saat itu merupakan strategi Jenderal David Petraeus dan beberapa petinggi militer. Kebijakan itu dapat membantu menghentikan perang sipil di Irak. Namun, prediksi tim Bush tentang manfaat strategis perang Irak bagi AS dan kawasan terbukti sangat salah. Pejabat pemerintahan Bush berdalih kejatuhan pemimpin Irak Saddam Hussein akan mendorong era baru demokrasi di Timur Tengah. Teokrasi Iran yang dirancang akan mengalami efek domino keruntuhan, demikian juga dengan perdamaian Arab-Israel. Faktanya, kekacauan pascaperang di Irak justru menjadi penghalang demokrasi di kawasan itu.
Autokrasi masih menjadi panglima. Bahkan, lima bulan setelah pemilu, faksi-faksi sektarian di Irak tidak dapat membentuk pemerintahan baru. Sebaliknya, runtuhnya kekuasaan Saddam justru menjadikan Iran sebagai kekuasaan terkuat di kawasan. Pengaruh Iran pun tumbuh pesat dalam tujuh tahun terakhir. Sementara itu, proses perdamaian Timur Tengah tetap membeku. Semua kondisi itu menunjukkan kegagalan AS dalam mengelola kondisi pascaperang Irak. Kompetensi dan kapasitas AS dipertanyakan di Timur Tengah dan kawasan lain.
Pengaruh AS di kawasan itu pun semakin berkurang sehingga merusak kemampuan AS dalam mempromosikan perundingan damai Timur Tengah dan kesepakatan dengan Iran. Di Irak, walaupun AS telah mengucurkan dana miliaran dolar, infrastruktur di Irak masih hancur. Sebagian besar yang tampak hanyalah wajah kegagalan. Listrik hanya mengalir beberapa jam sehari saat suhu mencapai 120 derajat Fahrenheit. Meskipun kekerasan berkurang, kelas menengah terdidik di Irak terus menurun. Sedikitnya 100. 000 rakyat sipil Irak tewas sejak AS menginvasi Negeri 1. 001 Malam itu. Belum lagi jutaan warga Irak yang hingga kini masih jadi pengungsi.
Adapun wanita Irak yang mayoritas di kawasan itu masih memiliki posisi termarginalkan. Sementara AS saat ini masih mengalami masalah ekonomi dan harus berkomitmen dalam perang di Afghanistan. Malangnya, perang Irak yang dicetuskan Bush kini tragedinya harus ditanggung Obama. Presiden AS saat ini tidak dapat membalik halaman begitu saja. Fase baru perjuangan Irak akan tetap harus dalam pengawasannya. (syarifudin/sindo)
(//rhs)