Getting Time...

Israel Tunjuk Panglima Militer yang Baru

Senin, 06 September 2010 11:38 wib
TEL AVIV – Israel menun- juk Mayor Jenderal Yoav Galant sebagai panglima militer selanjutnya. Dia merupakan mantan komandan pasukan khusus dan dikaitkan dengan tuduhan kejahatan perang. 

Galant,51,akan menggantikan panglima militer Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi pada Februari mendatang. Sebagai komandan militer di Israel selatan, dia memimpin agresi Israel ke Jalur Gaza pada Desember 2008–Januari 2009 yang menewaskan 1.400 warga Palestina dan 13 warga Israel. 

Penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan militer Israel dan Palestina melakukan kejahatan perang dan kemungkinan kejahatan kemanusiaan selama 22 agresi Israel. 

Setelah Galand dinominasikan sebagai panglima militer pada bulan lalu,menunggu persetujuan resmi kabinet,kelompok hak asasi manusia (HAM) Israel,B’Tselem,menyerukan penyelidikan atas perannya dalam agresi Israel ke Jalur Gaza yang disebut “Operation Cast Lead”. 

“Pantas tidaknya Galant untuk posisi itu harus mempertimbangkan tanggung jawabnya atas tuduhan pelanggaran HAM selama Operation Cast Lead di Jalur Gaza yang dia pimpin,”ungkap B’Tselem. 

B’Tselem menyatakan, investigasi terhadap operasi militer itu harus fokus pada pangkat dan jabatan para tentara. Karena itu pula, perlu penyelidikan terhadap para komandan senior. 

“Investigasi independen mungkin memiliki implikasi langsung untuk menilai kelayakan Mayor Jenderal Galant memimpin militer, sambil mempertahankan kode moral,”papar B’Tselem. Galant lahir pada 8 November 1958 di wilayah campuran Arab Yahudi, Jaffa, bagian dari Tel Aviv. 

Ibunya, Fruma, tiba di wilayah Palestina yang diawasi Inggris dengan kapal Exodus saat berusia 12 tahun. Fruma mengungsi saat berusia 12 tahun dari Polandia yang saat itu diduduki Nazi Jerman. Pada tahun 1977 silam, Yoav Galant bergabung dalam unit komando angkatan laut Flotilla 13 sebagai anggota wajib militer. 

Setelah enam tahun di wajib militer, dia ingin mencari pengalaman baru dan menghabiskan waktu dua tahun sebagai seorang penebang pohon di Alaska. 

Dia lantas bergabung kembali dengan angkatan laut.Pangkatnya terus melejit hingga menjadi komandan Flotilla 13 sejak 1994 hingga 1997.Pasukannya dipercaya melakukan serangan ke kapal aktivis bantuan Gaza,Mavi Marmara,pada 31 Mei lalu.Serangan itu menewaskan sembilan aktivis atas Turki. 

Untuk memimpin pasukan komando itu,dia mengambil langkah tidak biasa dengan pindah ke angkatan darat selama setahun. 

Dia memimpin satu brigade infanteri di wilayah pendudukan, Kota Jenin, Tepi Barat. Pada tahun 2001,dia pindah ke angkatan darat untuk dilatih kembali dalam korps bersenjata dan menjadi pejabat komandonya. 

Pada tahun 2005, Galant dipilih memimpin komando selatan yang meliputi Jalur Gaza dan wilayah perbatasan Mesir. Istrinya, Claudine, bertemu Galant saat dia bekerja di angkatan laut. 

Istrinya masih menjadi anggota militer aktif dengan pangkat letnan kolonel. Mereka memiliki tiga anak. Gallant memegang gelar dalam manajemen finansial dan bisnis. (Koran SI/Koran SI/syarifudin) 
(//faj)
TWITTER »
twit