YERUSALEM – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu kemarin menyatakan, pemikiran kreatif diperlukan untuk mengakhiri konflik dengan Palestina yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmud Abbas telah bertemu langsung di Washington.Keduanya akan bertemu lagi di kota resor tepi Laut Merah, Sharm el-Sheikh, Mesir.
Palestina memperingatkan,kegagalan mencapai kesepakatan akan merusak popularitas Abbas dan menguatkan Hamas serta faksi lain yang menentang perundingan dengan Israel.
“Kita perlu berpikir secara kreatif dan dengan cara-cara baru tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan yang kompleks. Untuk mencapai solusi-solusi praktis, kita perlu memikirkan solusisolusi baru bagi masalah-masalah lama,” papar Netanyahu di awal rapat kabinet pekanan kemarin.
Netanyahu menambahkan, “Untuk sukses, kita perlu mempelajari 17 tahun negosiasi dan berpikir secara otentik untuk berpikir di luar kotak.”Netanyahu merujuk pada kesepakatan otonomi Palestina 1993.
Netanyahu menekankan,“Saya ingin mencapai satu kompromi bersejarah dengan tetangga kita Palestina sepanjang menjaga kepentingan nasional Israel, terutama keamanan.”
Israel dan Palestina kembali menggelar perundingan damai secara langsung di Washington pada Kamis 2 September setelah 20 bulan terhenti. Namun, serangkaian negosiasi itu akan menghadapi ujian terbesar bulan ini saat jangka waktu moratorium permukiman Yahudi berakhir.
Palestina memperingatkan, jika Israel tidak memperbarui pembekuan parsial konstruksi permukiman di pendudukan Tepi Barat saat moratorium berakhir pada 26 September, proses perdamaian akan terhenti.
Netanyahu mendapat tekanan dari sayap kanan yang mendominasi koalisi pemerintahan agar segera melanjutkan konstruksi permukiman Yahudi.Dia menyatakan, masalah permukiman akan didiskusikan bersama isu utama lainnya yang telah mempersulit negosiasi damai sebelumnya.
Itu utama itu termasuk status akhir Yerusalem dan nasib para pengungsi Palestina. “Hampir mustahil untuk melakukannya karena itu akan menyebabkan krisis pemerintahan,” papar Deputi PM Israel Sylvan Shalom menjelaskan perpanjangan pembekuan konstruksi permukimanYahudi.
Saat ditanya tentang risiko konstruksi permukiman Yahudi di Tapi Barat terhadap proses perdamaian, Shalom menjawab,“Palestina akan membuat satu kesalahan besar jika mereka keluar dari perundingan.”
Netanyahu berencana menggelar perundingan yang kedua dalam sebulan dengan Abbas, dimulai dengan pertemuan 14–25 September di Sharm el-Sheikh. Pertemuan itu akan dihadiri Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton.
Setelah menghadiri perundingan di Sharm el-Sheikh, dia akan menuju Yerusalem untuk pembicaraan lebih lanjut.“Menlu Hillary akan bergabung dengan negosiasi ini bersama Utusan Khusus untuk Perdamaian Timur Tengah George Mitchell,”papar kantor Kementerian Luar Negeri AS.
Sementara itu, kepala negosiator Palestina Saeb Erakat memperingatkan, jika upaya terakhir mencapai kesepakatan damai dengan Israel ini gagal,kepemimpinan moderat Palestina akan terpecah belah.
“Kami berharap menghasilkan negara Palestina. Jikakami gagal menghasilkannya sekarang, lalu saya pikir kami semua akan kembali ke rumah,”ujarnya.
Jatuhnya kepemimpinan Abbas yang moderat akan membuat gerakan Hamas semakin kuat untuk memimpin gerakan nasional Palestina. Hamas bersumpah menghancurkan Israel.
“Jika kita menghasilkan satu kesepakatan, (Hamas) akan lenyap,dan jika kita tidak menghasilkan kesepakatan, kami akan lenyap. Saya benar-benar berharap bahwa kita dapat mencapainya, dengan izin Tuhan,” ujar Erakat.
Namun, Menlu Israel Avigdor Lieberman menegaskan, dia tidak yakin sebuah kesepakatan akan tercapai dalam waktu satu tahun bahkan selama generasi selanjutnya. “Abu Mazen (Abbas) tidak akan menandatangani satu kesepakatan komprehensif.
Itulah mengapa kami harus membuat kesepakatan jangka panjang sementara dan berkonsentrasi pada keamanan Israel,” ujarnya, seperti disiarkan televisi Channel 2. Dalam kasus lain, Lieberman menambahkan,“Penandatanganan kesepakatan damai tidak berakhir berakhirnya konflik dan diakuinya Israel sebagai negara ansional rakyat Yahudi.” (Koran SI/Koran SI/Koran SI/syarifudin)
(//faj)