Getting Time...

Mandela Curahkan Perasaan lewat Surat

Selasa, 12 Oktober 2010 10:01 wib
Image : Corbis.com
Image : Corbis.com
NELSON Mandela adalah seorang tokoh antiapartheid yang menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. Yah, semua orang tentu tahu itu. Tapi, apakah Anda tahu kalau Mandela adalah seorang family man?

Kesedihan dan kehilangan tampaknya terus melekat dalam kehidupan mantan presiden itu. Namun, seberapa sedih atau marahnya Mandela, dia selalu kembali kepada keluarga tercinta. Sebagai seorang lelaki yang mencintai keluarganya (family man), dia selalu memikirkan kebahagiaan keluarganya.

Hingga kini Mandela kerap merasa belum bisa membahagiakan keluarganya. Itulah yang terungkap lewat buku Conversations with Myself. Buku ini berisi surat-surat Mandela untuk keluarganya. Surat-surat istimewa itu ditulis Mandela sejak 1960-an. Ada surat untuk istri, juga anak-anaknya. Sebuah surat yang ditulis 1969 ditujukan bagi kedua putri Mandela, Zenani dan Zindzi.

Surat ditulis setelah istri Mandela, Winnie Madikizela-Mandela, ditahan polisi. “Saya sering bertanya-tanya apakah seseorang itu dinilai ketika dia mengabaikan keluarganya memperjuangkan kesempatan bagi orang lain," ujar Mandela dalam buku itu.

Ungkapan hati Mandela itu cukup mengharukan dan terasa dekat dengan kehidupan kita, yang juga bagian dari keluarga masingmasing. Simak saja penggalan surat sang ayah bagi kedua putrinya berikut ini.

“Kalian mungkin merasa seperti anak yatim piatu, tidak punya rumah dan orang tua. Kalian merasa tidak mendapat cinta, kasih sayang, dan perlindungan yang ibu beri untuk kalian," tulis Mandela. Menyadari Winnie jauh dari rumah dalam waktu lama, Mandela pun meneruskan surat dengan kalimat, “ Sekarang kalian tidak akan bisa merayakan pesta ulang tahun atau Natal. Tidak ada hadiah dan baju baru. Tidak ada sepatu dan mainan.

"Setahun kemudian, Mandela menulis surat untuk Winnie, saat istrinya ditahan di Penjara Pretoria. “Saya merasa seperti berendam dalam kesakitan. Setiap bagian tubuh saya, mulai dari tulang, cucuran darah, juga jiwa. Pahit rasanya. Saya merasa tidak punya kekuatan lagi," tulis lelaki yang kehilangan cucu pada gelaran Piala Dunia lalu.

Hati tercabik pernah dirasakan Mandela ketika masih mendekam di penjara. Ketika itu, otoritas penjara menolak keinginannya untuk menghadiri pemakaman putra sulungnya, Thembi, yang meninggal setelah mengalami kecelakaan mobil saat berusia 24 tahun pada 1969.

“Ketika saya diberi tahu kematian putra saya, saya benarbenar terguncang," ujarnya, menambahkan bahwa dia juga mengalami kesedihan mendalam saat putrinya yang masih berusia sembilan bulan juga meninggal beberapa tahun sebelumnya. Tentu, tidak semua surat berisi kalimat-kalimat yang menyedihkan. Ada beberapa surat yang cenderung romantis. Kalau boleh disebut surat cinta, mungkin apa yang ditulis Mandela untuk Winnie adalah ungkapan kasih yang sederhana, namun istimewa. Surat-surat dalam Conversations with Myself agaknya menampilkan sisi lain Mandela.

Di balik kelantangan suara demi menentang politik apartheid, Mandela juga lelaki yang lembut. Perasaannya halus dan terkadang cukup sensitif. Dalam surat yang ditulis pada 1976 misalnya Mandela menulis bagaimana dia merasa sendiri dan kesepian. Dalam surat, dia mencurahkan beberapa masalah perasaan saat Winnie tidak bisa duduk di sampingnya. “ Tidur tanpa kamu di samping saya, bangun tanpa melihat kamu di dekat saya, serta menjalani hari-hari tanpa bisa melihat kamu," tulis Mandela tentang masalah perasaannya.

Conversations with Myself adalah buku yang menarik, khususnya bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang Mandela, sebagai manusia dan pemimpin keluarga. Kata pengantarnya ditulis Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. (AFP/The Guardian/ika/sindo) (//rhs)
TWITTER »
twit