Getting Time...

Inspirasi Solusi Damai untuk Konflik Timur Tengah

Senin, 18 Oktober 2010 09:11 wib
Image : Corbis.com
Image : Corbis.com
DALAM adegan pembukaan film dokumenter baru berjudul Budrus, kamera bergerak menyusuri jalan berdebu menuju rumah aktivis Palestina Ayed Morrar.

"Kami idak memiliki waktu untuk perang. Kami ingin membesarkan anak-anak kami dalam damai dan harapan." ujar Morrar dalam bahasa Ibrani. Ucapan itu ditujukan pada semua warga Israel dalam film dokumenter tersebut. Morrar berasal dari desa Budrus, satu dari enam desa terdekat perbatasan Tepi Barat dan Israel. Israel membangun tembok pembatas yang melingkari desa-desa itu pada tahun 2003.

Tembok tersebut memutus akses penduduk desa Budrus untuk mencapai tanah milik mereka seluas 121 hektare dan pohon-pohon zaitun yang ditanam warga. Film dokumenter itu merupakan hasil kolaborasi seorang warga Palestina dan seorang warga Israel. Mereka mengikuti gerakan warga desa yang menggelar protes damai menentang keberadaan tembok pembatas Israel tersebut.

Saat film itu diputar ke penjuru dunia, termasuk di New York, London, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Israel, dukungan mengalir dengan deras. Mereka menganggap film tersebut dapat menjadi studi kasus positif tentang bagaimana solusi nonkekerasan dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel. Sutradara film, Julia Bacha, yang bekerja sama dengan kelompok nonprofit Just Vision, menjelaskan bahwa dokumenter tersebut menjawab sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan banyak pihak.

“Pertanyaan itu adalah di mana Gandhinya Palestina? Mengapa Palestina tidak menggunakan perlawanan nonkekerasan?”papar Bacha.“ Jika mereka menggunakan nonkekerasan, akan ada kedamaian. Kami tahu situasi di lapangan sedikit lebih rumit daripada itu, tapi kami ingin memilih sebuah cerita sukses."

Di Budrus, selama 10 bulan, warga desa menggelar demonstrasi. Tidak biasanya, anggota faksifaksi Palestina yang berseteru, Fatah dan Hamas, tampil bersatu di barisan terdepan, bersama para perempuan dalam perjuangan damai tersebut. Dalam salah satu adegan di film itu, adik kandung Morrar yang berusia15tahun, Iltezam, melangkahke depan sebuah bulldozer, memaksa alat berat itu mundur.

“Ini bagus untuk dirasakan, meskipun Anda sangat kecil dan tidak memiliki apa pun, Anda bisa melakukannya." kata sutradara perempuan tersebut. Yang membuat film itu beda, ratusan pengampanye perdamaian asal Israel turut bermain peran.

Beberapa adegan dalam film tersebut juga menyajikan kejadian asli saat konvoi pengunjuk rasa damai dibubarkan tentara Israel dengan gas air mata dan peluru karet. Sejumlah perdebatan antara warga desa dan tentara Israel juga terjadi saat pasukan rezim Zionis berupaya mencabuti pohon-pohon milik warga Palestina. Di beberapa adegan, situasinya terlihat tanpa harapan. Budrus berada dalam jam malam dan peluru aktif senantiasa ditembakkan tentara Israel untuk mengontrol warga.

Saat seorang pemuda ditahan, warga desa yang marah mencoba menerobos barikade kawat berduri dengan tangan telanjang. Warga desa terus berjuang dengan damai. Pada akhirnya, Israel memutuskan mengubah rute tembok pembatas sehingga warga Palestina dapat mengakses 95% tanah milik mereka. Sejumlah penonton di Yerusalem Timur memberikan pujian terhadap film dokumenter tersebut.

Seorang Israel Arab bernama Hani menyatakan, “Saya kira sekarang kita perlu mengembangkan bentuk perlawanan kita dan ini pilihan yang tepat." “Kami hanya perlu menunjukkan pada dunia bahwa kami tidak suka kekerasan, kami bukan teroris, kami tidak ingin membunuh warga Israel, kami hanya ingin kemerdekaan." kata Hani.

"Pemuda Israel, Sefi, juga berkomentar, ini sebuah film yang brilian. Ini jelas menunjukkan cara hebat tentang konsekuensi pendudukan dari sudut pandang pribadi." (BBC/Rtr/syarifudin/sindo) 
(//rhs)
  • coi » 0 Tanggapan
    sebuah film hebat, sebuah ide hebat, sayangnya tidak ada adegan dimana adanya operasi militer tanpa sebab oleh tentara i****l penyiksaan tawanan anak2 oleh tentara i****l mungkin juga tidak di tampilkan, nggak mungkin Palestina berjuang dengan damai, sedangkan i****l selalu balas dengan peluru
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit