Getting Time...

Penambang Cile Penuh Perhitungan

Selasa, 19 Oktober 2010 10:15 wib
Penambang yang diselamatkan (Foto: AP)
Penambang yang diselamatkan (Foto: AP)
COPIAPO – Setelah dibebaskan dari dalam bawah tanah,tempat mereka tinggal selama 69 hari, 33 penambang Cile kini selalu membuat perhitungan saat diwawancarai televisi atau media lainnya. 

Dengan penuh detil,mereka memberikan “daftar” perhitungan uang yang harus dibayarkan media untuk setiap komentar yang mereka lontarkan.Mereka juga selalu meminta bayaran setiap tampil di layar kaca.Jelas sekali,ini dipengaruhi oleh budaya populer dan materialisme yang berkembang pesat untuk mencari eksklusivisme. 

Mereka meminta minimal USD40 (Rp357.000) dan maksimal USD25.000 (Rp223 juta) kepada media yang ingin mewawancarai mereka. Dan keinginan itu ternyata bak gayung bersambut. 

Media-media yang memburu mereka tak keberatan merogoh kocek demi mendapatkan cerita-cerita seru tentang pengalaman mereka selama berada di bawah tanah. Mereka bahkan berlomba membayar para penambang dengan harga yang tinggi untuk menaikkan popularitas program mereka. 

Kini, setelah cerita-cerita para penambang itu dijual ke berbagai media, giliran Hollywood yang akan mengemas kisah mereka dalam sebuah film.Diperkirakan film yang dibuat Hollywood itu bakal dirilis pada musim panas mendatang dan laris manis ditonton di seluruh dunia. 

Para produsen Hollywood pun berlomba untuk membujuk para penambang untuk bergabung dalam film mereka.Tentunya dengan iming-iming uang yang tidak sedikit. 

Siapa yang memberi terbanyak kepada para penambang, maka dia akan menggaet mereka bermain dalam film. Apalagi, laporan-laporan media menyebutkan bahwa sebelum para penambang itu diselamatkan, mereka telah sepakat untuk bermain dalam tambang emas Hollywood. 

“Beberapa orang mungkin suka dengan eksploitasi, beberapa mungkin tidak,” ujar Nando Parrado, produser televisi di Uruguay. 

Para penambang bukan hanya pihak yang mampu menentukan situasi dalam film,tetapi produsen yang memiliki reputasi. Sedangkan Will Jimeno, pensiunan polisi yang terkubur dalam insiden 11 September, mengaku tidak sepakat dengan perjanjian Hollywood itu. 

“Bagi saya, membuat kesepakatan dengan Hollywood untuk orang normal adalah hal yang menakutkan,” papar Jimeno yang ceritanya difilmkan oleh Oliver Stone pada tahun 2006 lalu dengan judul World Trade Center. 

Jimeno dan Sersan John McLoughlin hanya mendapatkan USD200.000 (Rp1,7 miliar) untuk cerita mereka. Angka itu tergolong kecil untuk ukuran Hollywood. Jimeno mengutarakan kebenaran sejarah dan menghargai petugas yang tewas adalah alasannya mau menerima tawaran bermain film itu. Dia menegaskan, uang bukan alasannya bermain film sejarah. 

“Hollywood-lah yang mendatangi kita,” ujar Jimeno, yang mengaku menangis ketika menyaksikan operasi penyelamatan para penambang. Dia menyarankan agar para penambang percaya kepada perasaan mereka sehingga bisa memilih yang terbaik dalam berbisnis. “Bagi Hollywood, mereka akan menyerahkan berapa pun uang yang diminta. Ini adalah bisnis,”katanya. 

Sementara ini,menurut Charles Randolph, penulis skenario, studio-studio Hollywood menunggu buku tentang para penambang itu yang mungkin ditulis penulis ternama. 

Atau bisa jadi,menurut dia, para penulis skenario Hollywood-lah yang akan menceritakan kisah itu sendiri. Dia memprediksi, film itu bakal meledak di pasaran bahkan meski tanpa kerja sama yang mendorong produsen untuk membuat sebuah film. 

“Anda dapat membuat sebuah film tentang Mark Zuckerberg, yang memiliki kekayaan USD6 miliar, dan tidak memiliki hak ciptanya,” ujar Michael Shamberg, produser World Trade Center.Film tentang pendiri situs jejaring sosial Facebook itu menjadi film laris manis dan menarik perhatian Oscar. 

Shamberg mengaku tidak membalas surat elektronik dari sutradara Cile yang mencoba untuk mengajak kerja sama untuk membuat film tentang penambang.“ 
Mereka memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Jika Anda tidak menghargai orangorang tersebut,” paparnya. 

Dia tetap bersikeras bahwa, film penambang itu tidak perlu mendapat persetujuan dari orang aslinya. Permasalahan lainnya adalah pertunjukan program reality show di televisi yang telah mengudara. Apalagi, cerita-cerita para penambang itu juga telah bertebaran di majalah.Buku tentang mereka pun segera diterbitkan.

Bisa jadi,kisah para penambang itu telah menjadi hal yang membosankan bagi masyarakat dunia. “Ini mengenai bagaimana menemukan cerita,”ujar Kris Thykier, produser film di London yang mengawangi film Madonna mendatang berjudul “WE”.

“Kesulitan bagi seorang produsen bukan bagaimana menceritakan para penambang itu terjebak. Tetapi mengenai personal dan karakter mereka,”ujarnya. (Koran SI/andika hm)   
(//faj)
TWITTER »
twit