ST PETERSBURG - Populasi harimau diperkirakan akan habis dalam 12 tahun mendatang jika negara-negara di mana harimau tinggal gagal mengambil langkah cepat untuk melindungi habitat mereka dan menggiatkan perlawanan terhadap perburuan liar.
Hal ini didapatkan dari pertemuan tingkat tinggi lingkungan hidup global dalam Tigers Summit yang tengah berlangsung di St Petersburg, Rusia.
Pihak World Wildlife Fund (WWF) dan aktivis lingkungan lainnya mengatakan hanya sekitar 3.200 harimau yang masih bertahan hidup di alam bebas, sebuah penurunan yang menyedihkan dari perkiraan jumlah 100.000 seabad lalu. Demikian dilansir Associated Press, Senin (22/11/2010).
James Leape, Direktur Jenderal WWF mengatakan, "bila tindakan perlindungan yang sesuai tidak segera diambil, populasi harimau akan punah pada 2022 mendatang. Ironisnya merupakan tahun harimau dalam kalender China".
Habitat harimau banyak yang dihancurkan oleh tindakan pembalakan hutan yang tidak terkontrol.
Fakta menunjukan bahwa hewan ini merupakan buruan berharga bagi para pemburu yang menginginkan kulit dan bagian-bagian tubuh lainnya yang biasa dipakai dalam pengobatan tradisional China. Tak pelak ini menjadi penyebab merosotnya populasi harimau.
Para anggota Tigers Summit telah menyetujui sebuah program jangka panjang dengan tujuan meningkatkan populasi harimau pada 2022 yang didukung oleh pihak pemerintah dari 13 negara yang masih memiliki populasi harimau.
Negara-negara itu antara lain Bangladesh, Bhutan, Kamboja, China, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, Vietnam dan Russia.
Program Perlindungan Harimau Global memperkirakan negara-negara tersebut akan membutuhkan sekitar USD350 juta atau sekira RP3,1 triliun (Rp8,916 per dolar), di luar pendanaan pokok dalam lima tahun pertama dari proyek 12 tahun tersebut. Pertemuan tersebut juga akan mencari donor untuk membantu pendanaan dari pihak pemerintah.
(faj)