JAKARTA - Dosen IMC University of Applied Sciences Austria Anis Bajrektarevic menilai politik Islam itu tidak ada sama sekali. Ini membantah anggapan Barat bahwa politik Islam perlu diwaspadai.
"Tidak ada politik Islam, yang ada hanyalah kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah dan ideologi tertentu, dengan menggunakan agama sebagai motornya. Mereka menggunakan keyakinan Islam atau pun Kristen sebagai bentuk ideologi yang nantinya mengupayakan kolonialisasi," unkap Bajrektarevic dalam diskusi bertajuk "Islam and Poltical Mixture in the Context of Drastic Change in the Middle East" di Gedung Annex Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (19/5/2011).
Lebih lanjut Bajrektarevic mengatakan seharusnya tidak ada argumen mengenai agama mana yang lebih baik. "Tidak seharusnya ada argumen tentang agama yang lebih baik. Apakah itu Islam lebih baik dari Kristen ataupun sebaliknya," lanjutnya.
Profesor yang datang atas undangan Kedutaan Austria ini juga menilai, Alquran sebagai Kitab Suci yang tidak menganjurkan kekerasan.
Selain itu, dia juga menepis bahwa dalam Islam ada diskriminatif terhadap perempuan.
"Anda dapat hitung, Alquran menyebutkan pria dan perempuan dalam jumlah yang sama dari ayat pertama hingga ayat terakhir," urainya. "Alquran selalu mengajarkan bahwa umat Muslim harus terus belajar dan belajar," tambahnya.
Dia juga mengkritik kebudayaan Arab yang terus mewabah di kalangan perempuan Indonesia, utamanya dalam mengenakan burqa atau pakaian yang menutup seluruh bagian tubuh termasuk wajah, kecuali mata. Dia menilai perempuan Indonesia tidak perlu mencontoh pakaian seperti itu.
"Arab memaksakan perempuan untuk mengenakan pakaian menutup mulut perempuan. Heran jika perempuan Indonesia memakai pakaian ini," tuturnya.
Menurut Bajrektarevic, para pria Arab sengaja menganjurkan hal itu karena mereka tidak ingin melihat perempuan mereka bergaul dengan pria lain, saat mereka bekerja.
Sementara itu, soal konflik yang di Timur Tengah, Bajrektarevic meminta Indonesia harus memegang peran lebih besar. "Karena pluralitas dan keterbukaan, Indonesia sudah sepatutnya berperan lebih banyak," tegas pria kelahiran Negeri Balkan yang berdomisili di Austria ini.
(faj)