Getting Time...

PM Selandia Baru Kecam Diskriminasi Wanita Berjilbab

Fajar Nugraha
Selasa, 05 Juli 2011 10:26 wib
Ilustrasi: Telegraph
Ilustrasi: Telegraph
WELLINGTON - Perdana Menteri (PM) Selandia Baru John Key mengecam diskriminasi yang dialami oleh perempuan berjilbab. Hal tersebut berkaitan dengan laporan adanya dua perempuan Arab Saudi yang diperintahkan untuk turun karena menggunakan jilbab.

Para diplomat Arab Saudi di Selandia Baru melayangkan kekhawatirannya dengan dua insiden terpisah yang terjadi di Auckland tersebut. Kedua perempuan itu dipaksa turun dari bus hanya karena menggunakan jilbab yang menutupi seluruh muka.

Pada satu kasus mahasiswa Arab Saudi yang dipaksa turun itu menangis di jalan, setelah supir membentaknya untuk keluar bus. Supir itu kemudian menutup pintu dan pergi begitu saja.

PM Key mengaku dirinya merasa tidak masalah dengan perempuan yang menggunakan burka atau jilbab yang menutupi seluruh wajah. "(Jilbab) itu tidak masalah bagi saya. Hal ini adalah bagian dari kepercayaan masing-masing warga," ungkap Perdana Menteri John Key seperti dikutip AFP, Selasa (5/7/2011).

Lebih lanjut PM Key menambahkan bahwa pemerintahannya tidak perlu melarang penggunaan burka di muka publik, seperti yang dilakukan oleh Prancis.

"Saya kira setiap warga harus saling menghormati budaya dan kepercayaan setiap orang yang berbeda dengan kita," ucapnya.

PM Key menekankan bahwa masyarakat Selandia Baru adalah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang beragam. Dirinya memintah agar seluruh rakyatnya untuk menghormati budaya lain, termasuk budaya Islam yang dimana para perempuan sudah terbiasa menggunakan jilbab atau bahkan burka.
(faj)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit