WELLINGTON - Sekelompok pemuda Israel yang turut menjadi korban saat gempa melanda Kota Christchurch, Selandia Baru, dicurigai menjadi mata-mata Israel. Namun setelah diselidiki, tidak ada bukti yang menyebutkan mereka adalah mata-mata.
Sebelumnya menurut laporan media setempat, gempa yang mengguncang 22 Februari lalu itu turut membongkar kedok jaringan mata-mata Israel yang beroperasi di Selandia Baru.
Namun Perdana Menteri Selandia Baru membantah tuduhan tersebut. "Tidak ada bukti (mereka adalah mata-mata). Mereka hanyalah sekumpulan wisatawan," ucap PM Key seperti dikutip Associated Press, Rabu (20/7/2011).
SuratKabar Southland Times memaparkan bahwa enam warga Israel yang turut menjadi korban pada gempa Februari lalu adalah mata-mata. Tiga dari mereka dilaporkan tewas, sementara sisanya berhasil selamat.
Southland Times melaporkan ada banyak kejanggalan yang mengelilingi warga Israel tersebut. Salah seorang yang tewas, diketahui memiliki lima paspor yang berbeda. Tetapi lagi-lagi PM Key membantah laporan itu.
"Hanya ditemukan satu paspor Uni Eropa pada orang itu (warga Israel yang tewas). Rekannya kemudian memberikan satu paspor lain, yakni paspor Israel sesaat mereka kembali ke Israel," Jelas Key.
Bantahan juga dilayangkan oleh Duta Besar Israel untuk Selandia Baru Shemi Tzur. Ia menilai laporan Southland Times sebagai sebuah cerita fiksi. Dubes Tzur menegaskan, "Mereka hanyalah pemuda yang ingin menghabiskan liburan di negeri yang indah (Selandia Baru)".
(faj)