Ilustrasi : turkeyforyou
ANKARA - Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, keyakinan warga Turki akan keanggotaan negaranya di Uni Eropa mulai goyah.
"Ketika (mantan Presiden Prancis) Jacques Chirac atau (mantan Kanselir Jerman) Gerhard Schroeder masih menjabat sebagai pemimpin negaranya, Turki selalu terlibat dalam pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa, namun semuanya berubah ketika (Kanselir Jerman) Merkel dan (Presiden Prancis) Sarkozy menggantikan mereka. Namun kami bertekad untuk terus mendapatkan keanggotaan di Uni Eropa," ujar Erdogan, seperti dikutip Trend, Selasa (28/9/2011).
Turki menjadi kandidat anggota Uni Eropa pada Desember 1999 silam. Uni Eropa mengadakan pembicaraan aksesi dengan Turki pada 3 Oktober 2005.
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy menjadi salah satu pihak yang tidak mendukung Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa. Sarkozy menyatakan hal demikian berdasarkan batas wilayah Eropa yang lama.
"Saya rasa wilayah Turki bukanlah di Eropa, Turki adalah negara yang berada di wilayah Asia," klaim Sarkozy.
Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan, Turki masih jauh dari siap untuk bergabung dengan Uni Eropa, namun untuk hal ekonomi dan keamanan, Ankara dinyatakan kompeten.
Satu hal yang cukup menyulitkan Turki dalam bergabung dengan Uni Eropa adalah adanya kasus Armenia. Kasus pembantaian massal warga Armenia di era Perang Dunia I membuat Turki sulit untuk bergabung dengan Uni Eropa.(rhs)