Foto : Ketua Komisi HAM PBB Navanethem Pillay (WN)
NEW YORK - Jurnalisme kini dikenal sebagai salah satu profesi paling berbahaya di dunia. Komisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan, saat ini dibutuhkan sebuah strategi untuk melindungi nyawa para jurnalis.
"Pikirkanlah sebuah tindakan di PBB untuk menjamin keselamatan para jurnalis dan untuk menghentikan kekebalan hukum dari setiap orang yang mengancam nyawa mereka (jurnalis)," ujar Ketua Komisi HAM PBB Navi Pillay, seperti dikutip Guardian, Jumat (14/10/2011).
Pernyataan Pillay muncul setelah adanya insiden pembunuhan terhadap para jurnalis yang terjadi setiap pekan. Pengawas pers yang berbasis di New York, Committee for the Protection of Journalists (CPJ), melaporkan adanya 44 kasus pembunuhan terhadap jurnalis di dunia ini.
Pada pekan ini, seorang reporter radio Abiaziz Ahmed Aden tewas dalam ledakan bom di Somalia dan seorang editor media online Faisal Qureshi disiksa dan dibunuh di Pakistan.
Pillay pun paham akan kerja para jurnalis, lewat pesannya di Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO), dirinya langsung memusatkan perhatiannya pada jurnalis yang melaporkan situasi dan kondisi di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Pillay mengatakan, jurnalis adalah seseorang yang berada di tengah konflik dan perdamaian. Mereka melaporkan adanya pelanggaran HAM dan pemerintahan yang buruk di setiap negara. Mereka juga berkontribusi dalam meningkatkan kewaspadaan seluruh orang terhadap isu HAM.
Ketua Komisi HAM PBB ini juga mendesak setiap negara agar memberikan kebebasan berekspresi demi melindungi jurnalis-jurnalisnya.
(rhs)