Getting Time...

Prancis Selidiki Serangan Media Peleceh Nabi Muhammad

Fajar Nugraha
Kamis, 03 November 2011 13:06 wib
Foto : Sampul Majalah Charlie Hebdo
Foto : Sampul Majalah Charlie Hebdo
PARIS - Sebuah bom molotov yang dilempar ke arah kantor tabloid yang melecehkan Nabi Muhammad di Prancis, mulai diselidiki oleh pihak keamanan setempat. Perdana Menteri Prancis Francois Fillon mendesak mencari pelaku penyerangan ini.

"Pihak berwenang harus bergerak cepat mencari pelaku penyerangan ini dan membawa mereka ke muka pengadilan," ucap Perdana Menteri Fillon seperti dikutip Huffington Post, Kamis (3/11/2011).

"Kebebasan berekspresi adalah nilai lebih dalam demokrasi Prancis. Tidak ada yang bisa membenarkan tindak kekerasan," jelas Fillon.

Sementara Menteri Dalam Negeri Claude Gueant menyatakan, pihaknya akan berupaya keras untuk mencari pelaku di balik penyerangan ini. 

Insiden pelemparan bom molotov yang menyebabkan kantor dari tabloid Charlie Hebdo terbakar ini, dipicu oleh publikasi tabloid tersebut yang dinilai menghina Nabi Muhammad. Mereka juga membuat lelucon dari kemenangan Partai Islam di Tunisia serta penerapan sariah Islam di Libya.

Sementara Direktur Charlie Hebdo yang dikenal dengan sebutan Charb, menilai penyerangan tersebut dilakukan oleh orang tidak mengerti Islam.

"Mereka yang melakukan penyerangan ini adalah orang yang tidak mengerti Islam. Saya kira mereka bukanlah orang Islam, seorang idiot yang mengkhianati agamanya sendiri," jelas Charb.

Dalam publikasinya pekan ini yang berjudul "Sharia Hebdo", tabloid ini menunjukan karikatur seorang pria yang menggunakan sorban, berjubah putih dan berjenggot serta tersenyum sambil mengatakan, "akan saya cambuk kalian, bila tidak tertawa hingga mati".

Majalah Charlie Hebdo juga menuliskan, Nabi Muhammad sebagai Pemimpin Redaksi mereka, yang tentunya menyulut kemarahan warga Muslim Prancis. 

Ketua Dewan Islam Prancis Mohammed Moussaoui mengecam keras penerbitan dari Charlie Hedbo. Tetapi dilain pihak, Moussaoui juga menentang kekerasan yang dialami oleh tabloid tersebut.

Sementara Imam Masjid Prancis Dalil Boubaker mengatakan, "Ulah (Charlie Hedbo) tidak mewakili bentuk kebebasan, toleransi dan perdamaian yang menjadi pesan kami. Saya sesali atas meningkatnya Islamophobia di Eropa saat ini."

Diperkiran ada sekira lima juta umat Muslim yang tinggal di Prancis. Para ulama dan tokoh masyarakat setempat berupaya keras untuk memerangi ketakukan akan Islam yang dirasakan saat ini terjadi di Eropa. 
(faj)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit