Foto : Presiden Korsel Lee Myung Bak (asienspiegel)
TOKYO - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Myung Bak mendesak Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda agar turut serta menanggapi keluhan dari mantan budak seks Korsel yang dipaksa melayani tentara Jepang di era Perang Dunia II.
Presiden Lee yang saat ini berada di Kota Kyoto, Jepang, mengatakan, masalah yang dialami oleh para mantan budak seks tampak menjadi penghalang bagi hubungan bilateral Jepang dan Korsel. Namun, PM Noda mengatakan, masalah ini sudah dianggap selesai dua tahun yang lalu.
Noda mengatakan, para pejabat Jepang sudah meminta maaf kepada mantan budak seks Korut pada 2009 lalu. Meski demikian, para mantan budak seks tetap meminta kompensasi ke Jepang. Demikian seperti diberitakan Associated Press, Minggu (18/12/2011).
Pada 14 Desember lalu, 500 perempuan tua mantan budak seks melakukan unjuk rasa di depan kantor Kedutaan Besar Jepang. Mereka menuntut permintaan maaf dari Jepang dan pemberian kompensasi.
Lee juga mendesak Jepang agar Jepang membayar kompensasi terhadap para perempuan-perempuan tua itu sebelum terlambat.
"Korsel dan Jepang harus menjadi mitra perdamaian dan stabilitas di wilayah Asia. Kita semua membutuhkan keberanian untuk memecahkan masalah para mantan budak seks yang saat ini menjadi halangan dalam hubungan Jepang dan Korsel," ujar Lee.
Demonstrasi itu merupakan demonstrasi ke-1.000 yang pernah dilakukan oleh mantan budak seks tersebut. Peristiwa ini juga mendapat tanggapan yang cukup mengejutkan dari Korea Utara (Korut) yang merupakan rival Korsel. Korut melayangkan surat dukungannya terhadap para mantan budak seks Korsel.
Menurut sejarahwan, pada era Perang Dunia II, sekira 200 ribu perempuan dari Korea, China, Filipina, dan negara lainnya bekerja di rumah bordil Jepang. Jepang sebelumnya sudah meminta maaf atas kejahatan perempuan-perempuan Asia tersebut, namun Pemerintah Jepang menampik ada tuduhan bahwa mereka mendirikan rumah bordil.(rhs)