Presiden Barack Obama (Foto: AP)
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama sepertinya menutup buku untuk operasi militer Negeri Paman Sam di Irak dan Afghanistan. Dirinya mulai mengalihkan perhatian dari ancaman keamanan di Asia, seperti di China dan Korea Utara (Korut).
Perubahan ini menunjukan bukan hanya untuk Obama, tetapi juga militer AS. Uniknya, hal ini dilakukannya saat memasuki akhir dari masa jabatan Obama tahun ini. Demikian diberitakan Associated Press, Jumat (6/1/2012).
Menghadapi pemilihan umum untuk merengkuh kembali jabatan Presiden AS, pria yang sempat tinggal di Indonesia tersebut mengumumkan keberhasilan di Irak dan Afghanistan. Dirinya pun bersikeras berhasil menunjukan keunggulan dari militer AS.
Sementara Menteri Pertahanan Leon Panetta yakin bahwa AS sangat terganggu dengan operasi di Irak dan Afghanistan usai serangan 11 September 2001.
Akibatnya, Negeri Paman Sam pun melewatkan kesempatan untuk meningkatkan posisi yang strategis di wilayah lain.
Pemilihan fokus ke Asia bukanlah tanpa sebab. China saat ini bisa dikatakan sebagai negara yang memiliki kekuatan militer yang terus berkembang.
Tahun lalu, Obama bahkan mengumumkan penambahan pasukan di Darwin, Australia, dengan alasan peningkatan kerja sama militer kedua negara. Namun banyak analisis yakin bahwa pengerahan pasukan tersebut dilakukan untuk menangkap pengaruh China di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara.
Korea pun tidak luput dari AS. Mereka memiliki kepentingan besar di wilayah Semenanjung Korea, terlebih setelah Korea Utara (Korut) baru saja ditinggalkan oleh pemimpin mereka Kim Jong-Il.
Kini dipimpin oleh Kim Jong-Un sebagai suksesor Kim Jong-Il, arah kebijakan Negeri Komunis itupun tidak jelas. Kondisi seperti ini yang membuat AS terus mengawasi kondisi di Semenanjung Korea.
(faj)