Getting Time...

Konflik Thailand Berpotensi Layaknya Krisis di Yaman

Khairisa Ferida
Senin, 16 Januari 2012 12:14 wib
BANGKOK - Duta Besar Inggris untuk Thailand Asif Ahmad mengatakan, perang yang dilancarkan oleh gerilyawan muslim di Thailand selatan dapat berkembang menjadi krisis keamanan internasional.

Konflik yang menyebabkan lebih dari 5000 orang tewas selama delapan tahun terakhir, dapat berujung pada masalah seperti halnya yang terjadi di Yaman atau Afghanistan.

"Mungkin suatu hari nanti masalah itu akan menjadi masalah regional secara keseluruhan. Dan saya berani mengatakan, masalah ini menjadi magnet bagi kelompok lainnya untuk menciptakan kekacauan di tempat lain. Kita telah melihatnya di Yaman dan Afghanistan," ujar Dubes Ahmad seperti dikutip Scoop, Minggu, (16/1/2012).

Sementara Dubes Uni Eropa untuk Thailand David Lipman justru memberikan fakta lain mengenai konflik ini.

"Hampir dua orang dibunuh setiap harinya di Thailand Selatan. Ini jelas sangat mengkhawatirkan," ujar Dubes Lipman.

Pernyataan dua Duta Besar itu disampaikan dalam pidato pembukaan forum diskusi yang berjudul "Roadmap to Deep-South Resolution: Government Concerns and Policy Responses 2011-2014" di the Foreign Correspondents Club di Bangkok.

Sejumlah pejabat militer dan politikus Thailand juga turut berbicara dalam forum tersebut.

Menurut data statistik yang dikumpulkan oleh Pemerintah Thailand, dari 59 korban tewas dalam aksi penyerangan yang dilakukan oleh gerilyawan muslim itu 38 persen diantaranya merupakan penganut agama budha.

Thailand telah menghabiskan dana sebesar USD3,5 Milyar atau sekira Rp320 Triliun (Rp 9145 per USD) dalam operasi militer untuk menumpas para pemberontak namun pembunuhan selama delapan tahun terakhir tetap meningkat.

Setidaknya 535 orang tewas tahun lalu dalam konflik yang terjadi pada tahun 2011. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari tahun 2010 yang mencapai 521.

Pemerintah Thailand dibawah pimpinan PM Yingluck Shinawatra telah mendapatkan kritikan terkait masalah ini.(rhs)
TWITTER »
twit