Ilustrasi : Reuters
BOGOTA - Presiden Kolombia Juan Manuel Santos mengatakan, gerilyawan Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC) terpaksa menjual sapi untuk mendanai aksi pemberontakannya seiring dengan menurunnya perdagangan kokain.
"FARC mencari cara untuk mengatasi keterbatasan dananya karena perdagangan narkotik tampaknya mulai menurun. Mereka pun terpaksa menjual sapi," ujar Santos, seperti dikutip Daily Mail, Rabu (18/1/2012).
Hingga saat ini, FARC yang dahulu selalu berafiliasi dengan kartel-kartel narkoba kerap melakukan penjualan sapi curian di beberapa wilayah di Kolombia. Meski mengalami kekurangan dana, FARC tampaknya tetap mampu melancarkan serangan dan juga pengeboman.
Pada Jumat pekan lalu, gerilyawan itu terlibat dalam insiden peledakkan bom di Provinsi Norte de Santader yang berbatasan dengan Venezuela.
Pemerintah Kolombia dan FARC sebelumnya sudah mendesak agar diadakan gencatan senjata, namun Santos meminta agar gerilyawan komunis itu melepaskan para tahanan dan melucuti senjatanya terlebih dahulu. FARC pun menolak tuntutan Santos.
Kolombia merupakan negara dengan jumlah pendukuk 46 juta yang dilanda pemberontakan selama lima dekade. Pemberontakan separatis yang dilakukan oleh FARC sudah menewaskan puluhan juta jiwa. FARC juga kerap melakukan penculikan dan serangan dalam skala besar di Kolombia.(AUL)