WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) sepertinya masih belum bisa mengerti jalan pikiran pemimpin baru Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un. Menurutnya patut diawasi provokasi yang dilakukan oleh Negara Komunis itu.
Atas ancaman provokasi itu, AS pun mendesak China untuk melakukan tekanan terhadap pemimpin baru Korut tersebut. Kim Jong-Un diharapkan mampu menahan dirinya dan tidak melepaskan provokasi terhadap tetangganya Korea Selatan (Korsel).
Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Asia Kurt Campbell mengaku bahwa pihaknya tidak mengetahui banyak tentang Kim Jong-Un. Menurutnya, segala bentuk provokasi dari Korut dapat memicu terjadinya konsekuensi buruk. Konsekuensi itu tentunya dapat terjadi di wilayah Semenanjung Korea.
"Semua pihak perlu mengatasi situasi dengan langkah arif dan AS pun mengharapkan China dapat memastikan Korut mengerti pesan yang diinginkan semua pihak," ucap Campbell seperti dikutip AFP, Jumat (20/1/2012).
Naiknya Kim Jong-Un memang sudah diperkirakan sebelumnya oleh dunia barat dan Korsel. Namun, mereka tidak mengetahui tabiat dari putra bungsu Kim Jong-il tersebut.
Banyak analis berpendapat, bahwa dirinya tidak jauh berbeda dengan ayahnya Kim Jong-Il yang wafat 17 Desember 2011 lalu. Sementara keraguan juga diutarakan oleh kakak Jong-Un, yakni Kim Jong-Nam.
Menurutnya, Jong-Un tidak mampu mengurus negara dan dirinya khawatir Korut akan runtuh bila dipimpin oleh Kim Jong-Un yang hanya dipersiapkan selama tiga tahun oleh ayahnya.
(faj)