Foto : Biksu Tibet berdoa (AP)
LHASA - Seperti diketahui, banyak insiden bakar diri yang dilakukan oleh para biksu dan bikuni di Tibet pada 2011 lalu. Aksi bakar diri itu sering dilakukan di Provinsi Aba dan Sichuan, China. Namun apa sebenarnya yang ada dibalik insiden tersebut?
Banyak aktivis mengatakan, aksi mengganggu itu merefleksikan aksi represif yang dilakukan oleh Pemerintah China terhadap warga Tibet. Perdana Menteri Tibet Lobsang Sangay bahkan mengatakan, insiden itu merupakan indikasi yang jelas tentang kesedihan, kebencian, dan keputus-asaan warga Tibet terhadap apa yang terjadi di Tibet.
Meski demikian, mantan aktivis Tibet Tsering Woeser mengatakan, aksi bakar diri bukanlah aksi bunuh diri. Itu adalah sebuah pengorbanan untuk menarik perhatian masyarakat internasional.
"Bila tidak ada perkembangan, warga Tibet akan berpikir bahwa mereka lebih baik mati daripada hidup. Mereka pun melakukan bunuh diri saat memprotes China," ujar Woeser, seperti dikutip CNN, Rabu (1/2/2012).
"Komunitas internasional harus memberikan tekanan dan kecaman terhadap Pemerintah China. Sejauh ini, tekanan internasional pun sangat tidak cukup, tidak ada aksi yang nyata dari komunitas internasioal seperti halnya sanksi ekonomi ke China," tambahnya.
Woeser juga menjelaskan, para warga Budha di Tibet tidak dapat menggunakan kekerasan untuk melancarkan aksi protesnya, oleh karena itulah mereka memilih untuk menyakiti dirinya sendiri guna menarik simpati publik.
Hingga kini, aksi bakar diri sudah menelan korban jiwa sebanyak 16 orang. Namun China tetap menuding Pemimpin Spiritual Tibet menjadi dalang dari aksi bakar diri tersebut. China bahkan menyebut Dalai Lama tak lain adalah serigala berjubah biksu yang selalu memerintahkan pengikutnya untuk bunuh diri.
(faj)