LONDON - Seorang pilot Inggris keturunan Pakistan menuntut maskapai British Airways yang memecatnya karena alasan diskriminasi. Pilot itu dipecat karena pihak perusahaan menuduhnya tengah merencanakan serangan teroris seperti peristiwa 11 September 2001.
Samir Jamaludin ditangkap oleh pihak Scotland Yard pada 2007 lalu, ketika dirinya dianggap sebagai ancaman nasional. Saat itu dirinya diketahui dekat dengan tersangka teroris lain, yang dicurigai hendak melancarkan serangan teror ala 11 September 2001. Demikian diberitakan Daily Mail, Minggu (5/2/2012).
Tetapi Jamaludin bersikeras bahwa dirinya tidak punya niatan untuk melakukan serangan itu. Alhasil, akibat takut peristiwa serangan teror 2001 terulang, pihak maskapai penerbangan Inggris British Airways tempat dimana Jamaludin bekerja, melarangnya untuk terbang.
Bahkan saat Jamaludin ditangkap, mantan Direktur British Airways Willie Wash membawa masalah ini kepada Menteri Dalam Negeri Inggris saat itu, Jacqui Smith. Akhirnya pada 2010 lalu, Jamaludin pun dipecat dari pekerjaannya sebagai pilot.
Direktur Keamanan British Airways Tim Steed mengatakan, penangkapan Jamaludin terkait penangkapan yang dilakukan terhadap adiknya Yakoob Jamaludin. Yakoob diketahui menjadi anggota aktif dari Hizbut Tahir.
Namun sang kakak, Samir Jamaludin tidak pernah bersentuhan sama sekali dengan kelompok itu.
Yakoob sendiri diketahui memiliki kaitan dengan dua orang pria yang dicurigai hendak melakukan serangan serupa dengan serangan 11 September 2001. Adam Mohamed dan Imad Shoubaki, yang ditangkap oleh pihak kepolisian memang diketahui terbukti berniat melakukan tindakan teror.
Atas hubungan tersebut, Jamaludin dan adiknya ditangkap pada 23 Oktober lalu. Namun dalam pengadilan, Jamaludin bersikeras dirinya tidak terkait sama sekali dengan plot teror.
Kini pria yang sudah bekerja selama 10 tahun bersama British Airways tersebut menuntut pihak perusahaan karena memecatnya atas alasan rasis. Tetapi pihak perusahaan membela diri keputusan itu diambil demi menjaga keamanan nasional.
Hingga saat ini, proses pengadilan atas kasus itu pun masih terus berlanjut. Pihak British Airways pun diminta untuk menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa meminta campur tangan pemerintah.
(faj)