MANILA - Komandan jaringan teroris Filipina Abu Sayyaf Umbra Jumdail tewas ditangan pasukan pemerintah pekan lalu. Tewasnya Jumdail tidak lepas dari bantuan warga desa tempat dirinya bersembunyi.
Umbra Jumdail mungkin berhasil merubah citra brutalnya di mata warga desa di Filipina Selatan, dengan memberikan bantuan kepada warga miskin. Tetapi pada akhirnya warga desa ini pula yang membuat tewas di tangan pasukan pemerintah.
Serangan udara Amerika Serikat (AS) yang membantu pasukan Filipina, berhasil menewaskan Jumdail, anaknya dan beberapa anggota Abu Sayyaf lainnya di Kota Parang, Pulau Jolo. Tewasnya Jumdail tentu membuat Abu Sayyaf terpukul, karena posisinya sebagai salah satu pemimpin kunci kelompok teror tersebut.
Tersangka militan yang berhasil selamat dari serangan ini, mencurigai bahwa penduduk desa bekerja sama dengan pihak militer secara rahasia. Mereka dicurigai membantu pasukan Filipina melacak Jumdail.
"Para anggota militan percaya bahwa warga desa mencari bantuan medis dan bergerak menuju persembunyian Jumdail. Mereka pun meninggalkan semacam sensor yang digunakan pihak militer untuk menyerang markas Abu Sayyaf itu," jelas pernyataan pihak intelijen Filipina seperti dikutip Associated Press, Senin (6/2/2012).
Tidak lama kemudian setelah sensor itu diletakan, serangan udara pun datang. Akibatnya kondisi persembunyian markas Abu Sayyaf itu pun hancur dan Jumdail pun tewas.
Selain Jumdail, serangan itu juga menewaskan teroris yang paling dicari oleh FBI yakni Zulkifi bin Hir yang juga dikenal sebagai Marwan. Teroris warga negara Malaysia ini, adalah insinyur yang berpendidikan AS.
Marwan dianggap penting untuk membantu perekrutan warga desa ke dalam tubuh Abu Sayyaf. Umumnya warga desa itu dijadikan pelaku bom bunuh diri dan melatih mereka untuk melakukan serangan mematikan. Selain Marwan, teroris Singapura Abdullah Ali yang lebih dikenal sebagai Muawiyah juga tewas dalam serangan itu.
(faj)