Foto : Pemberontak Tuareg (nytimes)
BAMAKO - Ratusan pemberontak di Mali, Afrika dikabarkan mendapatkan persenjataan dari gudang senjata mantan penguasa Libya Moammar Khadafi. Para pemberontak itu pun sudah mulai melakukan penyerbuan di kota-kota padang pasir yang terletak di bagian utara Mali.
Suku Tuareg merupakan salah satu suku yang mendukung Khadafi agar tetap berada di tampuk kekuasaan Libya. Para suku Tuareg itu pun menjadi masalah bagi Pemerintah Mali. Di bagian utara Mali, mereka sudah mengibarkan benderanya dan mendirikan basis militer. Mereka tergabung dalam gerakan Mouvement National Pour la Libération de l’Azawad (MNLA).
"Tujuan kami adalah membebaskan Tanah Air kami dari Mali," ujar juru bicara pemberontak Tuareg yang ada di Prancis Moussa Ag, seperti dikutip New York Times, Senin (6/2/2012).
Beberapa bulan setelah Khadafi tewas, persenjataan Libya dikabarkan sudah berpindah tangan ke para pemberontak di sejumlah negara Afrika, Chad, Angola, Guinea-Bissau, Eritrea, Mozmabique, Namibia, dan Zimbabwe.
Menurut Menteri Luar Negeri Mali Soumelou Boubeye Maiga, para pemberontak Tuareg saat ini memiliki persenjataan berupa misil anti-tank dan anti-serangan udara. Mereka juga memiliki senapan mesin yang cukup kuat serta mortar. Pejabat militer Mali bahkan mengatakan, dengan persenjataannya Tuareg dapat menggulingkan pemerintahan di Mali.
Hingga saat ini, belasan kota di Mali sudah diserang oleh para pemberontak dan hampir dari 10 ribu warga melakukan eksodus.
Khadafi memang masih dipandang sebagai sosok pahlawan bagi sejumlah pemberontak Afrika. Khadafi sebelumnya juga dikabarkan sering mendukung gerakan pemberontakan seperti di Sudan pada 1976 silam. Khadafi juga sempat mendukung rezim junta militer di Gambia pada 1994.(AUL)