Getting Time...

Perubahan Myanmar Tidak Seperti Arab Spring

Fajar Nugraha
Jum'at, 10 Februari 2012 11:26 wib
Aung San Suu Skyi lambang demokrasi Myanmar (Foto: AFP)
Aung San Suu Skyi lambang demokrasi Myanmar (Foto: AFP)
YANGON - Myanmar memang menunjukan perubahan yang pesat dalam beberapa waktu terakhir. Media setempat pun menilai perubahan yang terjadi tidak seperti Arab Spring yang menimpa beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika.

Bagi pihak Myanmar, mereka mengambil contoh di Irak dan Afghanistan yang menunjukan kesalahan strategi dalam menuju perubahan. Pada akhirnya menimbulkan luapan kesedihan dari kedua negara itu.

"Arab Spring adalah bentuk perubahan yang berujung pada pertumparan darah dan diatur agar berakhir dengan kekacauan dan kemiskinan," jelas media Myanmar seperti dikutip AFP, Jumat (10/2/2012).

Selain itu, media Myanmar juga menyebutkan bahwa perubahan di negara Arab itu hanya berujung pada perpecahan pada kelompok etnis yang ada.

"Myanmar mampu menghindari perpecahan ini karena perubahan yang harmonis dan niat yang tulus dari mantan penguasa dan pemerintahan saat ini. Pemerintah sekarang membantu terbukanya jalan menuju demokrasi yang dipenuhi kedamaian dan stabilitas," imbuh media Myanmar.

Hingga saat ini perubahan di Myanmar memang membuat dunia terperangah. Presiden Thein Sie memimpin reformasi yang memungkinan para penentang junta militer di masa lalu, kembali terjun ke dalam dunia politik.

Myanmar pun mengklaim terus bergerak ke arah demokrasi. Ini juga ditandai oleh kehadiran kembali Aung San Suu Kyi dalam pemilihan umum. Suu Kyi telah mencalonkan diri untuk menjadi anggota parlemen.
(faj)
TWITTER »
twit