Getting Time...

NATO Akui Bunuh Anak Afghanistan

Fajar Nugraha
Selasa, 14 Februari 2012 08:57 wib
Pasukan AS yang tergabung dalam Nato di Afghanistan (Foto: Euronews)
Pasukan AS yang tergabung dalam Nato di Afghanistan (Foto: Euronews)
KABUL - Pasukan koalisi North Atlantic Treaty Organisation (NATO) yang dipimpin Amerika Serikat (AS) mengakui memang menewaskan anak-anak Afghanistan dalam serangan udara pekan lalu. Sebelumnya Presiden Afghanistan mengecam insiden ini.

Presiden Hamid Karzai pantas marah. Serangan yang terjadi pada 8 Februari lalu tersebut, menyebabkan beberapa anak-anak kecil turut menjadi korban akibat kecerobohan yang dilakukan oleh pasukan keamanan NATO (ISAF).

Juru bicara ISAF Brigadir Jenderal Carsten Jacobson mengatakan, sebuah penyelidikan dilakukan terhadap pasukan yang mengejak sekelompok pria dan menunjukan perilaku mencurigakan.

"Kelompok pria itu kemudian diburu oleh pesawat (ISAF) dan melancarkan serangan atas arahan pasukan di darat. Saat serangan terjadi, beberapa anak-anak Afghanistan turut menjadi korban," ucap Brigjen Jacobson seperti dikutip The Daily Star, Selasa (14/2/2012).

Namun pihak Afghanistan menolak anggapan bahwa sekelompok pria itu menunjukan perilaku yang mengancam. Anggota Parlemen Afghanistan dari wilayah Kapisa Mohammad Tahir Safi mengaku mendapatkan bukti percakapan antara kepala intelijen Afghanistan di wilayah setempat dengan seorang Kolonel asal Prancis. 

Kepala intelijen itu kemudian memastikan bahwa wilayah yang terkena serangan udara ISAF itu, sama sekali tidak berbahaya. Safi menambahkan, pasukan Prancis kemudian menggerebek rumah dari dua orang mantan anggota militan dan mereka hanya menemukan satu mortar dan satu senjata api dan beberapa amunisi.

"Sekira 600 meter dari desa yang dibom, anak-anak berkumpul untuk membuat api unggun dan tiba-tiba saja sebuah pesawat menjatuhkan bom pertama dan diikuti oleh bom kedua," ungkap Safi.

Menurut keterangan Safi, total ada delapan korban tewas dalam penyerangan tersebut. Anak-anak yang tewas berusia sekira enam hingga 14 tahun. 

Sementara Brigjen Jacobson mengakui kematian warga yang tidak bersalah ini adalah sebuah tragedi. Tetapi dirinya bersikeras bahwa pihaknya tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. 
(faj)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit