Getting Time...

Protes AS Ribuan Warga Pakistan Turun ke Jalan

Khairisa Ferida
Selasa, 21 Februari 2012 10:50 wib
Unjuk Rasa Menentang Intervensi AS di Pakistan (Foto: Naharnet)
Unjuk Rasa Menentang Intervensi AS di Pakistan (Foto: Naharnet)
ISLAMABAD - Ribuan orang turun ke jalan-jalan di Kota Islamabad, Pakistan pada Senin (20/2/2012). Mereka meneriakkan "Death to America" dan menyerukan Al Qaeda agar melakukan perang suci melawan Amerika Serikat (AS).

Para pengunjuk rasa yang terdiri dari koalisi 40 partai itu mengklaim tindakan mereka itu adalah bentuk dukungan terhadap Kementerian Pertahanan Pakistan.

"Hari ini Kita berkumpul untuk menyatukan suara, melawan intervensi AS di Pakistan," ujar pemimpin unjuk rasa tersebut Maulana Sami ul-Haq seperti dikutip AFP Selasa, (21/2/2012).

Pejabat polisi senior mengatakan pengunjuk rasa yang turun ke jalan pada Senin kemarin mencapai 2.500 orang, namun seorang saksi mengatakan ada sekira 3.500 orang yang berkumpul dengan pengawalan ketat dari polisi anti hura-hara.

"Protes kami ditujukan atas dibukanya kembali jalur pasokan makanan bagi pasukan NATO, intervensi AS dan India yang berdampak bagi pertahanan Pakistan," ujar Haq.

Ditambahkan Haq, AS hanya ingin menghancurkan Pakistan. Pernyataan Haq itu muncul menyusul sebuah resolusi yang diserukan oleh tiga anggota parlemen AS agar AS mengambil tindakan sendiri dalam menghadapi militan Al Qaeda yang disinyalir memiliki basis kuat di wilayah Provinsi Baluchistan, Pakistan.

Aliansi yang melakukan unjuk rasa di Islamabad Senin kemarin adalah, aliansi yang dibentuk setelah terjadinya penyerangan pesawat tanpa awak milik AS yang menewaskan 24 tentara Pakistan. Kelompok ini dilaporkan juga menggunakan jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook untuk mengumpulkan dukungan dan menyampaikan pesan mereka.

Aliansi Pakistan-AS dalam kerja sama perang melawan teror yang telah berlangsung selama 10 tahun ternyata dikabarkan merupakan kebijakan yang tidak populer di negara itu.

Rakyat Pakistan menganggap justru kebijakan melawan teror itu menimbulkan bentuk teror baru seiring dengan tumbuh suburnya kelompok militan baru yang melakukan kekerasan di negara itu.

"Selama 10 tahun Pemimpin Kami yang merupakan sekutu AS telah terlibat dalam pertumpahan darah di negeri ini. Kami tidak bisa lagi diam sekarang. Sesungguhnya ini bukan perang Kami," ujar mantan Kepala Intelijen Pakistan yang terlibat dalam perang melawan Uni Soviet pada 1980-an, Hamid Gul.

Hamil Gul yang juga turut berpartisipasi dalam unjuk rasa itu mengatakan, rakyat Pakistan tidak mengizinkan pasukan NATO memasok makanannya dari wilayah mereka.

"Jika pemimpin Pakistan berpihak pada AS, maka rakyat akan melakukan perlawanan," imbuhnya.

Hubungan AS-Pakistan memasuki fase kritis setelah serangkaian serangan oleh pesawat tanpa awak milik AS yang menewaskan sejumlah militer Pakitan di dekat perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Pakistan menuding AS, melakukan tindakan militer sepihak serta menjalankan operasi rahasia di wilayahnya. AS berkilah tindakan itu ditempuhnya karena Pakistan dituding melindungi serta mendukung kelompok militan di wilayah perbatasan Pakistan-Afghanistan

Serangan pesawat tanpa awak milik AS dilaporkan memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama pemerintahan Presiden Barack Obama.(rhs)
TWITTER »
twit