Getting Time...

NTC Akui Kesalahannya dalam Memimpin Libya

Aulia Akbar
Rabu, 22 Februari 2012 18:02 wib
Foto : Ketua Dewan Transisi Nasional Mustafa Abdul Jalil (guardian)
Foto : Ketua Dewan Transisi Nasional Mustafa Abdul Jalil (guardian)
TRIPOLI - Ketua Dewan Transisi Nasional (NTC) yang saat ini memegang kekuasaan di Libya mengakui bahwa pemerintahannya tidak sanggup mengontrol perseteruan antarmantan pasukan revolusi yang dahulu berjuang menumbangkan Moammar Khadafi.

Pimpinan NTC Mustafa Abdel Jalil mengingatkan, para loyalis Khadafi masih muncul sebagai ancaman Pemerintah Libya, akan membutuhkan waktu yang lama pula bagi Libya untuk menumpas korupsi yang diwariskan oleh rezim Khadafi.

Mustafa juga mengakui kesalahannya dalam memimpin Libya, namun dirinya juga mengkritisi mantan pasukan revolusi yang melakukan perseteruan satu sama lain, meski Khadafi sudah digulingkan.

"Seluruh pihak bersalah, program Pemerintah Libya yang berniat ingin mengintegrasikan para pasukan revolusi ke militer Libya sangat lambat, dan para mantan gerilyawan itu tidak percaya dengan Pemerintah Libya," ujar Mustafa, seperti dikutip Associated Press, Rabu (22/2/2012).

Hingga saat ini, ratusan militan bersenjata yang dahulu menumbangkan Khadafi menjadi satu-satunya kekuatan dan sekaligus ancaman bagi Libya. Mereka masih memegang senjata dan Libya pun dihantui beberapa serangan balasan dari para loyalis Khadafi.

Hari ini, Libya pun dilanda bentrokan antarsuku yang menewaskan 134 orang. Bentrokan itu terjadi antara suku Toubu dan Zwai yang terletak di Kota Kufra, Gurun Sahara. Peristiwa kekerasan itu juga merupakan pukulan telah bagi NTC yang saat ini menjadi pemegang kekuasaan di Libya.(AUL)
TWITTER »
twit