Foto : Mantan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo (pinoygigs)
MANILA - Saat disidang di pengadilan, mantan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo mengaku tidak bersalah atas tuduhan kecurangan pemilihan umum.
Perempuan yang menjadi Presiden Filipina pada 2001 hingga 2010 itu dituding mencurangi hasil pemilihan umum pada 2007. Tuduhan sabotase pemilu itu merupakan tuduhan kriminal pertama yang dikenakan terhadapnya.
"Saya tidak bersalah," ujar Arroyo, di pengadilan, seperti dikutip AFP, Kamis (23/2/2012).
"Meskipun kampanye fitnah terhadap saya dan keluarga saya terus terjadi, saya selalu mengatakan bahwa saya akan membantah semua tuduhan ini di forum yang tepat," imbuhnya.
Insiden sabotase pemilu tersebut terjadi di wilayah selatan Filipina yang sering disebut pula sebagai wilayah terkorup. Saat pemilu berlangsung, sebanyak 12 kandidat Senat Filipina yang didukung Arroyo memenangkan pemilu itu dengan mudah dan tidak ada satupun kandidat dari pihak oposisi yang menang.
Menurut pengadilan, ada saksi mata yang mengatakan bahwa Arroyo memberikan instruksi untuk mensabotase proses pemilihan umum itu dan berkolusi dengan salah seorang pimpinan klan politik yang kuat di Filipina, Andal Ampatuan. Ampatuan juga diadili atas peristiwa pembantaian 2009 yang menewaskan 57 orang, namun dirinya tidak mengaku bersalah.
Kasus Arroyo memang menjadi taruhan bagi Presiden Filipina Benigno Aquino. Bila Arroyo terbebas dari segala bentuk tuduhan itu, Aquino akan menerima resiko berupa kehilangan dukungan dari rakyat. Aquino yang selalu menyuarakan anti-korupsi dan anti-kemiskinan nampaknya harus menanggung malu.(AUL)