JAKARTA - Dalam penutupan pertemuan Komisi HAM Organisasi Konferensi Islam (OKI), Komisioner dari Mesir dan Turki tampak menyuarakan kekhawatirannya terhadap kekerasan di Suriah.
"Apa yang terjadi di Suriah, adalah peristiwa yang cukup mengganggu. Kami sadar akan adanya pelanggaran HAM di negara tersebut dan juga pertumpahan darah," ujar Komisioner Mesir, dalam penutupan pertemuan Komisi HAM OKI, di Hotel Aryaduta, Jumat (24/2/2012).
Komisioner Turki pun mengutarakan pernyataan yang sama dengan Mesir tentang Suriah dan berharap agar pertumpahan di salah satu negara Arab itu berakhir secepat mungkin.
Dalam penutupan pertemuan itu, seorang diplomat Mesir juga menyuarakan dukungannya terhadap Komisi HAM OKI. Dirinya juga tampak menjelaskan sedikit mengenai kesinambungan antara nilai-nilai HAM dan Islam. Seperti halnya Islam harus menghormati satu sama lain, prinsip non-diskriminasi yang ada di Deklarasi HAM PBB.
Mesir juga meminta agar Komisi HAM OKI meningkatkan kewaspadaannya terhadap isu-isu HAM lainnya seperti okupasi ilegal yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat serta Yerusallem Timur. Mesir menganggap hal itu tidak hanya merupakan pelanggaran hak sosial, ekonomi, dan politik, namun juga hak mendapatkan kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri.
Diplomat Mesir itu menegaskan bahwa saat ini, Mesir tengah memusatkan navigasinya untuk menuju Mesir yang baru, yang menegakkan HAM.
Menurut Komisioner Indonesia Siti Ruhaini Dzuhayatin, isu Suriah masih menjadi pokok pembahasan oleh sejumlah komisioner pada pertemuan Komisi HAM OKI. Komisi HAM OKI juga akan tetap memusatkan perhatiannya terhadap isu kemanusiaan di Suriah.
(AUL)