ASIA

Obama Tak Ingin Pasukan AS Berlama-lama di Afghanistan

Rabu, 14 Maret 2012 09:10 wib
Khairisa Ferida - Okezone
Pasukan AS di Afghanistan dituduh bantai warga sipil (Foto: Euronews) Pasukan AS di Afghanistan dituduh bantai warga sipil (Foto: Euronews)

WASHINGTON - Insiden penembakan oleh seorang pasukan Amerika Serikat (AS) terhadap 16 warga sipil Afghanistan dikabarkan membuat Gedung Putih mempertimbangkan untuk melakukan penarikan pasukan lebih awal dari Afghanistan.

"Penting bagi Kita untuk memastikan bahwa Kita tidak boleh terlalu lama di Afghanistan, tidak lebih dari waktu yang sudah ditetapkan," ujar Presiden AS Barack Obama dalam sebuah wawancara dengan stasiun Radio Denver seperti dikutip Irish Times Rabu, (14/3/2012).

Namun Obama menegaskan, AS tidak akan terburu-buru dalam memutuskan penarikan pasukan tempurnya di Afghanistan sebelum memastikan bahwa transfer tanggung jawab keamanan dari pasukan AS ke otoritas Afghanistan berlangsung dengan baik.

"Hal yang lebih penting adalah memastikan bahwa Kita keluar dari Afghanistan dengan sikap penuh tanggung jawab sehingga Kita tidak perlu kembali lagi. Apa yang tidak kita inginkan adalah, penarikan pasukan secara terburu-buru," ujar Presiden Obama.

Surat kabar New York Times melansir, akibat insiden penembakan brutal oleh seorang pasukan AS yang menewaskan 16 warga sipil Afghanistan saat ini Gedung Putih tengah mempertimbangkan untuk melakukan penarikan terhadap 31.000 pasukan pada bulan Juni 2013 mendatang. Pilihan itu ditengarai menjadi pilihan yang didukung oleh penasehat keamanan AS Tom Donilon dan Wakil Presiden Joe Biden.

Insiden penembakan oleh seorang pasukan AS tersebut juga telah memicu kemarahan warga Afghanistan yang sebelumnya telah lebih dulu tersulut emosi akibat pembakaran kitab suci Alquran yang dilakukan oleh pasukan NATO di penjara Bagram Afghanistan.

Presiden Obama sendiri telah didesak untuk segera mendefinisikan kebijakan resmi AS di Afghanistan menyusul terjadinya insiden penembakan tersebut. Namun dengan cepat Presiden Obama menjawab desakan tersebut dengan menegaskan beberapa kebijakan resmi AS di Afghanistan.

"Kebijakan resmi AS di Afghanistan antara lain, adalah untuk mentransfer tanggung jawab keamanan kepada Pemerintah Afghanistan, melakukan upaya perdamaian dengan pihak Taliban serta menjalin kesepakatan dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai terkait dengan kehadiran pasukan AS yang berjumlah lebih kecil setelah misi NATO berakhir pada 2014 mendatang," ujarnya. (rhs)

Berita Selengkapnya Klik di Sini
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.

getting time ...

 
Berita
Terpopuler
Komentar Terbanyak
BACA JUGA ยป